19 October 2020, 01:44 WIB

Pelajar Ikut Demo, Pakar : Dirangkul saja, Jangan Diberi Sanksi


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MARAKNYA aksi demonstrasi  yang melibatkan kalangan pelajar atau siswa dalam  menolak pengesahan Omnibus Law Undang Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) diharapkan ditangani secara bijaksana. Tidak dengan menjatuhkan  sanksi atau ancaman drop out  (DO) namun dirangkul dengan berdialog.

“Sesuai ajaran bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mengutamakan sistem among dalam  mendidik anak anak  maka kita mesti  merangkul bukan memberi ancaman kepada pelajar kita yang melakukan aksi demonstrasi. Pihak sekolah dapat melakukan disiplin yang positif   bukan ancaman menjatuhkan sanksi mengeluarkan siswa atau DO dari sekolah,” kata Koordinator Perhimpunan Untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim pada webinar tentang aksi demonstrasi pelajar di Jakarta, Minggu (18/10).

Satriwan yang juga guru SMA di Jakarta ini merujuk  pada surat edaran Kemendikbud pada masa Mendikbud Muhadjir Effendy tentang pembinaan siswa yang bersifat preventif dan persuasif bukan refresif. Ia mencontohkan, ancaman tidak memberikan SKCK bagi pelajar yang berdemo juga tidak edukatif.

“Mereka para siswa  generasi milenial yang mendapat pembelajaran abad 21 tentang critical thinking atau berpikir kritis  membandingkan dengan para penjahat negara seperti koruptor kok bisa tetap dapat ikut pilkada. Jadi tidak  tepat lagi menakuti nakuti  siswa milenial .Kita juga  jangan meremehkan suara hati mereka,”tegasnya.

Satriwan mengingatkan kepada orang dewasa, dinas pendidikan, guru dan sekolah tidak meremehkan suara hati para pelajar. Selain itu, seiring prinsip merdeka belajar yang didengungkan Ki Hajar Dewantara dan pemerintah sekarang para pelajar hendaknya diberikan kemerdekaan dalam cara berpikir.

“Sesuai merdeka belajar yang tengah digaungkan mari kita beri siswa milenial  kita kebebasan berpikir dan kita para guru jangan menjauhkan realitas social yang ada dengan kondisi  yang  dihadapi para siswa kita,” tukasnya.

Dalam kesempatan sama, psikolog Zarina Akbar mengemukakan para siswa SMA dan SMK sedang berada dalam  tahap perkembangan usia remaja sehingga mesti ditelusuri apa yang mendorong mereka melakukan aksi demonstrasi.

Baca juga : Telibatnya Pelajar dalam Unjukrasa Buah Pendidikan Bermasalah

Menurut Zarina, salah satu ciri perkembangan sosial remaja adalah mencari identitas diri ingin menunjukan siapa mereka, ingin berperan di masayrakat.

“Seperti aksi demo mereka ingin menunjukan ingin dilihat bahwa mereka ingin berpendapat walau memang ada sekadar ikut ikutan namun ini  juga dipengaruhi peer group atau kelompok sebaya mereka,” kata Zarina.

Zarina juga sependapat para siswa usia remaja ini harus dirangkul diajak diskusi bukan dengan memberi   punishment atau hukuman.

“Kita harus hadir men dengarkan suara hati mereka,. Karena terkadang kita sulit membangun dialog jika sifatnya memberi ceramah satu arah saja,”tukasnya..

Peserta webinar pelajar SMA di Jakarta Faisal Rahman mengatakan sebagai pelajar berpartisipasi dalam aksi demonstrasi adalah wajar. Menurutnya sebagai generasi milenial atau generasi Z dengan aksi demo menepis sifat individualis yang disematkan pada generasi tersebut.

"Kami turut demo karena UU Ciptaker ini dalam kebijakannya dikhawatirkan mempengaruhi para pelajar yang akan lulus sekolah.Walau saya belum.baca ratusan halaman UU ini .Saya kira tidak masalah kalau kita turut mengkritisinya," tukas Faisal yang mengaku memantau perkembangan pembahasan pro kontra UU Ciptaker melalui akun Instagram. (OL-7)

BERITA TERKAIT