19 October 2020, 07:05 WIB

Arkeolog Temukan Asal Muasal Bangsa Penunggang Kuda Eurasia


Bagus Pradana | Weekend

PARA arkeolog telah menemukan bukti baru yang menarik tentang asal muasal Bangsa Skithia, bangsa penjelajah yang mendiami Kawasan Eurasia sejak 3.000 tahun lalu.

Tim arkeolog gabungan dari Rusia dan Swiss kini sedang melakukan proyek penggalian baru terhadap gundukan makam yang diperkirakan merupakan komplek pemakaman kerajaan Bangsa Skithia, di Kawasan Tunnug, Republik Tuva, Rusia (Siberia).

Para peneliti mengungkapkan terdapat kemiripan budaya antara gundukan pemakaman Bangsa Skithia tersebut dengan arsitektur tanah liat yang terdapat pada kompleks Deer Stone di Khirigsuur, Mongolia.

Bangsa Skithia adalah bangsa nomaden yang hidup di kawasan Eurasia (Siberia-Asia Tengah bagian Barat) sekitar abad 9 hingga 1 SM. Reputasi mereka terkenal sebagai penunggang kuda tangguh yang memiliki kemampuan memanah dengan akurasi tinggi.

Timur Sadykov, pemimpin proyek penggalian situs Tunnug 1 ini meyakini bahwa terdapat kontribusi bangsa-bangsa di Asia Tengah bagian Barat dalam pembentukan budaya Bangsa Skithia awal.

“Merujuk penggalian awal yang kami lakukan, kami menyimpulkan bahwa situs Tunnug 1 ini adalah situs yang paling kuno di antara gundukan pemakaman Bangsa Skithia yang ada, yang secara struktural dekat dengan situs Kurgan Arzhan 1 yang pernah digali pada 1970-an, juga di Kawasan Tuva, " papar Sadykov seperti dilansir dari Express.co.uk, Kamis (15/10).

“Penelitian kami baru-baru ini menunjukkan bahwa tradisi budaya Bangsa Skithia kemungkinan besar berasal dari kawasan yang kini dikenal sebagai lembah Raja Tuva, tapi telah mengalami percampuran budaya yang kompleks," sambungnya.

Para peneliti menyatakan kesimpulan yang diajukan dalam penelitian ini dianggap mampu menjembatani debat kontroversial mengenai asal-usul budaya Bangsa Skithia.

Dalam keterangannya Gino Caspari, salah satu pemimpin proyek Tunnug 1, mengatakan, kompleks tersebut memiliki karakteristik transisi perpindahan zaman yang cukup jelas (dari Zaman Perunggu ke Zaman Besi).

"Kompleks ini memiliki karakteristik transisi yang menunjukkan ciri-ciri tradisi daei Zaman Perunggu Akhir dan Zaman Besi Awal dengan tanda-tanda pengaruh eksternal," ungkap Caspari.

Untuk tahap akhir penelitian, para peneliti juga berencana merekonstruksi situs dengan permodelan 3D untuk memetakan persebaran budaya bangsa nomaden yang dikenal sebagai penunggang kuda yang tangguh ini.

"Pada akhirnya proyek penggalian gundukan permakanan ini akan kami didigitalkan dan disajikan dalam model 3D yang akan memungkinkan para arkeolog generasi baru untuk menjelajahi situs ini secara lebih jauh," pungkas Jegor Blochin, kepala bagian pendigitalan proyek Tunnug 1. (M-4)

 

BERITA TERKAIT