18 October 2020, 16:41 WIB

Telibatnya Pelajar dalam Unjukrasa Buah Pendidikan Bermasalah


Sri Utami | Humaniora

KETERLIBATAN para pelajar dalam aksi unjuk rasa hingga terjadinya perusakan fasilitas publik merupakan buah dari sistem pendidikan yang bermasalah.

"Jika pendidikan mereka terasupi dengan baik, tidak akan ada perbuatan yang melanggar adab dan etika meski mereka turut langsung dalam sebuah demo," jelas Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, Minggu (18/10).

Menurutnya ini salah satu bentuk gagal dalam pendidikan kritis untuk membangun karakter pendidikan, sehingga anak-anak akhirnya menjadi objek eksploitasi.

"Anak-anak itu sebetulnya kurang memahami masalah dan realita tapi lebih digerakkan oleh emosi dan solidaritas," paparnya.

Pria yang akrab disapa Romo Benny menjelaskan, tindakan perusakan merupakan pelanggaran terhadap hak publik yang mengakibatkan rasa aman dan damai terancam. Dia mengingatkan aparat kepolisian agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menindak para pelajar.

Peristiwa vandalisme dari aksi unjuk rasa kemarin hingga penangkapan sejumlah pelajar STM dan SMK menurut Benny menjadi pekerjaan besar bagi Menteri Pendidikan untuk berani mengoreksi sistem pendidikan yang ada saat ini.

Baca juga : Kekerasan pada Anak masih Tinggi, Kemensos Diminta Proaktif

"Pendidikan seharusnya menghasilkan transformasi sosial yang dapat memperkuat karakter anak-anak dalam mengenal baik dan buruknya suatu perbuatan. Dampak besar pendidikan juga akan menghasilkan tumbuh kembangnya kesadaran umat dalam suatu bangsa," jelasnya.

Fakta yang terjadi  di setiap era para penguasa sambung dia yakni pendidikan seperti kehilangan makna hakikinya. Pendidikan bukan lagi menjadi alat untuk melakukan transformasi dari kegelapan menuju pencerahan. Dalam berbagai kebijakan pendidikan  terselip berbagai macam proyek yang sering hanya berujungpangkal pada uang dan keuntungan penguasa, pemenangan ideologi dan kepentingan kelompok di atas kelompok yang lain.

"Sampai pencampuradukan antara kepentingan pemenangan agama yang simbolistik dan ketidakjelasan arah visi yang dituju," jelas Benny.

Selanjutnya Benny menekankan pemerintah harus mencarikan solusi agar anak-anak sekolah mempunyai harapan untuk masa depannya serta energi mereka diarahkan untuk menambah keterampilan, bukan tindak kekerasan. 

”Kalau anak-anak itu mampu kreatif dan inovatif serta berpikir kritis maka mereka tidak akan mudah terjebak ke dalam vandalisme itu,” katanya.

Ke depan Benny berharap  mereka yang terlibat dalam tindakan vandalisme harus ditangani dengan terapi khusus dalam pembinaan anak-anak. Salah satu upaya yaitu pelajar didorong serta diberi peran di publik sesuai bakat dan minatnya. 

"Menggali potensi bakat dan minat yang mereka miliki adalah proses pendidikan yang memerdekakan dengan pengakuan kesuksesan, bukan hanya kemampuan akademis semata. Seseorang memiliki makna hidup ketika ia menjadi dirinya sendiri," tukasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT