18 October 2020, 12:05 WIB

Fenomena La Nina Diperkirakan Terjadi hingga Mei 2021


Zubaedah Hanum | Humaniora

LA Nina adalah kondisi penyimpangan suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normalnya. Hal itu diikuti oleh perubahan sirkulasi atmosfer di atasnya berupa peningkatan angin pasat timuran yang lebih kuat dari normal.

Menurut informasi yang dibagikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi La Nina ini berlangsung selama beberapa bulan hingga dua tahun, berserta dampak yang ditimbulkannya.

Perkembangan La Nina dilakukan BMKG dengan menganalisis indeks Nino 3.4 yang menggambarkan anomali suhu mula laut di wilayah Samudera Pasifik tengah. Hasilnya didapatkan bahwa indeks Nino 3.4 selama 7 dasarian terakhir (70 hari) bera pada kisaran -0,5 s.g -1,0 telah memenuhi kriteria kejadian La Nina.

"Berdasarkan analisis Dasarian 1 Oktober 2020, La Nina diprediksi akan berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas lemah hingga sedang," tulis BMKG dalam akun resmi Instagramnya, Minggu (18/10).

Dengan panjangnya waktu kejadian La Nina, BMKG memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampaknya. Pertama, La Nina akan menaikkan curah hujan hingga 40% dari normal. Namun, akumulasi curah hujan ini tergantung pada musim/bulan, wilayah dan intensitas.

"Curah hujan meningkat seiring masuknya awal musim hujan," tulis BMKG.

La Nina menambah curah hujan secara signifikan pada Oktober-November pada awal musim hujan (selain faktor monsun). Akumulasi curah hujan lebih dari 300 mm per bulan umumnya akan terjadi di  pesisir barat Sumatra, wilayah sekitar pegunungan Bukit Barisan, Kalimantan bagian barat, utara dan sebagian papua.

Selain itu, La Nina juga akan menguatkan curah hujan bulanan. Pada Oktober, intensitas curah hujan diprediksi menguat di sebagian besar wilayah Indonesia, kecuali sebagian Sumatera dan Kalimantan. Pada November, sebagian wilayah terutama Indonesia bagian tengah, timur dan Selatan. Sedangkan, Desember sebagian wilayah terutama wilayah Indonesia timur dan selatan.

Selain Indonesia, La Nina berdampak pada peningkatan curah hujan di Pasifik barat (sebagian Asia tenggara lainnya dan bagian utara Australia), Brasil bagian utara dan sebagian pantai barat Amerika Serikat.

Sebaliknya, curah hujan yang lebih rendah terpantau di sebagian pantai timur Asia, bagian tengah Afrika dan sebagian Amerika bagian tengah, serta dapat menyebabkan iklim lebih dingin di sebagian wilayah di barat dan timur Afrika, Jepang, sebagian besar pantau barat AS dan Brasil bagian selatan.

Saat memimpi Rapat Terbatas Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (13/10), Presiden Joko Widodo mengingatkan, peningkatan curah hujan hingga 40% bukan kenaikan yang kecil dan dianggap biasa-biasa saja.

Ia pun memerintahkan jajarannya untuk menyiapkan dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi dan juga dampak dari La Nina terhadap berbagai sektor di Indonesia.  “Dampak dari La Nina ini terhadap produksi pertanian, agar betul-betul dihitung, (serta) terhadap sektor perikanan dan juga sektor perhubungan,” kata Presiden. (H-2)

BERITA TERKAIT