18 October 2020, 10:39 WIB

Potensi Wisata di Lahan Gambut


Denny Susanto | Nusantara

DESA Tatakan di Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan mendadak ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Mereka adalah para penggemar mancing yang akan mengikuti lomba memancing ikan (memair iwak). Lokasi lomba berada di sepanjang aliran sungai kecil (kanal) yang membelah kawasan lahan gambut Desa Tatakan. Dengan hadiah mencapai jutaan rupiah yang disediakan panitia penyelenggara menjadi daya tarik tersendiri bagi para pehobi (mancing mania) dari berbagai daerah untuk mengikuti lomba memancing ini.

Belakangan kegiatan lomba memancing di alam terbuka terutama sungai dan rawa sangat populer di Kalsel. 

"Lebih dari 1.000 orang lomba memancing ini dan hadiah yang disediakan panitia mencapai jutaan rupiah untuk berbagai kategori," tutur Sugiono, Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Tatakan.

Desa Tatakan merupakan  satu dari puluhan desa yang berada di kawasan gambut dan menjadi target  restorasi melalui program Desa Peduli Gambut. Desa ini juga dikenal sebagai sentra ikan air tawar (sungai dan rawa) dan surganya bagi para pemancing mania. Ikan-ikan jenis haruan (gabus) dan papuyu berlimpah di kawasan rawa gambut ini.

Pertahankan gambut untuk wisata 

Meski belum beraspal akses jalan desa Tatakan terbilang cukup baik. Jalan ini dibangun Pemkab Tapin untuk akses menuju obyek wisata Eko Wisata Bekantan berjarak kurang lebih 12 kilometer dari desa. Melihat kondisi Desa Tatakan ini Haris Gunawan Deputy IV bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) menilai sangat potensial untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis lahan gambut. 

"Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan di desa ini salah satunya menjadi destinasi wisata," ungkapnya.

BRG sendiri mendorong pembangunan sektor ekonomi dan wisata berbasis lahan gambut ini secara nasional. Di Desa Tatakan yang kaya hasil ikan sungai dan rawa merupakan potensi unggulan untuk dikembangkan dengan melibatkan peran pemerintah daerah. Sayangnya lebih separuh wilayah Desa Tatakan sudah dikuasai perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain mayoritas warga desa yang menggantungkan hidup dari bertani juga menghadapi kendala dalam pengolahan lahan gambut. Setidaknya ini menjadi keluhan yang disampaikan Kepala Desa Tatakan, Ilhamsyah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana saat meninjau lokasi pembangunan sekat kanal di Desa Tatakan bersama BRG menyebut wilayah ini merupakan zona merah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

"Hampir tidak ada lagi hutan galam akibat kebakaran dan adanya ekspansi perkebunan sawit. Ini menunjukkan kawasan gambut di sini mengalami degradasi," tuturnya.

Namun hamparan lahan gambut terdegradasi dan diperkirakan sudah mulai menipis ini akan lebih mudah dikelola masyarakat untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Termasuk program restorasi dan pengembangan potensi wisata berbasis lahan gambut. (OL-3)

BERITA TERKAIT