18 October 2020, 05:45 WIB

Ilmuwan: Jangan Salahkan Kelelawar


(bbc.com/*/L-2) | Weekend

SEJAK covid-19 mewabah di seluruh dunia, para pakar kelelawar telah meluncurkan kampanye Don’t Blame Bats (Jangan Menyalahkan Kelelawar).

Kampanye itu dilakukan untuk menghilangkan ketakutan dan mitos yang tidak mendasar tentang mamalia terbang ini yang mengancam konservasi.

Kelelawar menjadi kambing hitam atas wabah virus korona yang awalnya muncul di Tiongkok pada akhir 2019 lalu. Di banyak tempat di dunia, kelelawar sering dianggap sebagai hewan yang jahat.

Namun, bagi ahli ekologi Mathieu Bourgarel kelelawar ialah makhluk yang indah dan luar biasa.

Bourgarel dan rekan peneliti di Universitas Zimbabwe pergi ke gua kelelawar untuk mengumpulkan sampel dan kotoran dari kelelawar.

Dari sampel tersebut, mereka menemukan virus korona yang berbeda, termasuk salah satunya dari keluarga yang sama dengan SARS dan SARS-CoV-2, virus penyebab covid-19.

Penelitian itu sebagai bagian dari upaya dunia untuk menyelidiki keragaman dan susunan genetik dari virus-virus yang dibawa kelelawar.

“Penduduk setempat sering mengunjungi habitat kelelawar ini, untuk mengumpulkan kotoran yang kemudian digunakan sebagai pupuk bagi tanaman mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui patogen yang dibawa kelawar tersebut karena dapat ditularkan ke manusia,” kata Dr Elizabeth Gori, salah seorang peneliti dari Universitas Zimbabwe.

Alih-alih menyalahkan kelelawar, terdapat sejumlah keunikan dan manfaat hewan yang aktif di malam hari ini, di antaranya kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang mampu terbang.

Kelelawar pemakan serangga memberikan keuntungan bagi petani di Amerika Serikat sebab menghemat US$3,7 miliar dengan mengurangi kerusakan alam.

Ada lebih dari 500 spesies tumbuhan yang bergantung pada kelelawar untuk penyerbukan. Yang mengkhawatirkan, saat ini kelelawar berada di bawah ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya,
yaitu dari perusakan habitat, perubahan iklim, perburuan, dan tekanan lainnya.

Campur tangan manusia


Sebagian besar ilmuwan memang telah sepakat bahwa virus menyeberang ke manusia dari spesiesspesies hewan, yang kemungkinan besar kelelawar. Kendati demikian, bukan berarti kita menyalahkan kelelawar sebab campur tangan manusia juga semakin meningkat terhadap makhluk-makhluk ini yang kemudian menjadi akar masalahnya.

Kebanyakan wabah penyakit yang muncul dikaitkan dengan kerusakan alam oleh manusia. Wabah penyakit yang muncul telah dikaitkan dengan kerusakan alam oleh manusia. Ketika hutan
atau padang rumput dihancurkan untuk menggembalakan ternak, menanam kedelai, atau untuk membangun jalan dan permukiman, hewan liar dipaksa untuk lebih dekat dengan manusia dan ternak.

Kondisi itu memberikan kesempatan bagi virus untuk melompat ke kapal dan menyebar ke tempat lain. “Tidak dapat disangkal, kelelawar seperti kelompok hewan lainnya, menghadirkan risiko nyata sebagai inang penyakit yang berpotensi berbahaya,” kata peneliti Ricardo Rocha dari Universitas Porto, Portugal.

Para ilmuwan memperkirakan tiga dari setiap empat penyakit menular baru atau yang muncul pada manusia berasal dari hewan.

Peringatan bahaya datang pada 2002 ketika penyakit misterius SARS muncul di Tiongkok yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia.

Pada 2017, para peneliti mengidentifi kasi koloni kelelawar tapal kuda yang hidup di gua-gua terpencil di Provinsi Yunnan yang menyimpan potongan genetik virus SARS manusia. Mereka kemudian
memperingatkan bahwa penyakit serupa dapat muncul kembali, dan mereka terbukti benar.

Namun, alih-alih menyalahkan satu spesies atau lainnya, kita perlu menilai kembali hubungan kita dengan alam, kata Dr Rocha. Dia menunjukkan kelelawar sangat penting untuk ekosistem yang sehat dan kesejahteraan manusia.

Jika kelelawar dimusnahkan, akan mengerikan karena penyebaran penyakit dari hewan ke manusia lebih banyak diakibatkan dari manusia yang merambah wilayah mereka daripada sebaliknya, kata Dr David Robertson dari Universitas Glasgow.

Anteseden Sars-CoV-2 mungkin telah beredar di kelelawar selama beberapa dekade, katanya, dengan kemampuan untuk menginfeksi spesies hewan lain juga.

“Kekhawatiran utama ialah banyak spesies kelelawar terancam punah, jadi bahkan kejadian kecil dari kekerasan yang salah arah dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki dan memiliki efek aliran bencana bagi ekosistem yang diandalkan manusia,” kata peneliti Douglas MacFarlane dari Universitas Cambridge. (bbc.com/*/L-2)

BERITA TERKAIT