18 October 2020, 05:42 WIB

80 Persen Penularan Hepatitis Lewat Kehamilan


Siswantini Suryandari | Humaniora

PASIEN dengan riwayat infeksi hepatitis memiliki risiko tinggi terhadap kanker hati. Dan penularan hepatitis bukan lewat keringat atau makanan, melainkan darah. Hal itu diungkapkan Irsan Hasan, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterohepatologi dalam acara IG Live bertema Semangatmu Semangatku Mengalahkan Kanker Hati diselenggarakan oleh Cancer Information Support Center (CISC), Sabtu (17/10). Acara itu juga menyambut bulan peduli kanker hati. 
 Dengan dipandu moderator Shahnaz Haque, Irsan menjelaskan bahwa pasien dengan riwayat hepatitis B dan C memiliki risiko kanker hati lebih tinggi. 

"Dari 100 pasien kanker hati, 60 orang di antaranya punya riwayat hepatitis. Dan sisanya 40 pasien karena fatty liver dan sebab lain. Gambarannya 60-70% hepatitis B dan sisanya sekitar 30-40% hepatitis C," terang Irsan.

Munculnya hepatitis B  dan C ini disebabkan oleh virus. Saat ini, lanjut Irsan  30 persen penduduk Indonesia pernah terinfeksi hepatitis hepatitis B. 
"Ada sekitar 70-80 juta orang pernah terinfeksi hepatitis B namun itu bisa sembuh sendiri.  Tapi dari jumlah itu sekitar 18-20 juta sekitar 70% menjadi sirosis atau pengerasan dan pengecilan hati, dan 30% menjadi kanker hati."

Mengapa begitu banyak orang terpapar hepatitis B? Menurut Irsan, hepatitis tidak ditularkan lewat makanan atau keringat tetapi lewat darah. Dan sumber penularan 80% dari ibu. 

"Jadi jangan dikucilkan orang dengan hepatitis B. Penularan dari ibu terutama ibu yang tidak pernah mendapatkan vaksin hepatitis. Ibu yang tidak mendapatkan vaksin hepatitis B kemudian hamil bisa berpotensi melahirkan anak rentan terinfeksi hepatitis B. Apalagi dalam keluarga sudah ada yang terdeteksi terkena hepatitis B, maka harus waspada dan segera periksa ke dokter karena ada kemungkinan satu keluarga bisa terkena hepatitis B," lanjut Irsan.

Ia menuturkan kejadian yang pernah ia saksikan saat bertugas sebagai dokter di Sumatra Utara. Saat itu ada laporan bahwa warga di sebuah desa kena santet karena muntah darah dan perut membuncit. Warga sudah bersiap-siap akan mengusir santet. Ia kemudian turun tangan dan mengecek kondisi warga yang muntah darah itu, ternyata ia sudah mengalami kanker hati.

"Muntah darah, perut buncit di desa-desa dianggap sebagai serangan santet ternyata warga tersebut terkena hepatitis dan sudah menjadi kanker hati. Informasi yang salah ini menyebabkan warga percaya hal mistis dan tidak bertanya ke medis."

Irsan mengingatkan bahwa menjadi kanker hati tidak seketika, tetapi butuh proses lama. Untuk itu orang yang pernah punya riwayat hepatitis B maupun C harus rutin periksa selama 6 bulan sekali untuk memantau perkembangan hepatitisnya dan mendeteksi risiko kanker sejak dini. 

"Sebab hati tidak memiliki sinyal kuat menunjukkan gejala kanker seperti halnya penyakit lain seperti kanker payudara atau kanker lainnya. Hampir tidak ada gejala sehingga orang yang punya riwayat hepatitis ini merasa aman saja. Untuk itu perlunya rutin periksa hepatitis per enam bulan sekali agar bisa terpantau sejak dini apabila terjadi risiko kanker hati. Deteksi dini juga memberikan harapan hidup lebih lama," kata Irsan.

Ia menyebutkan rata-rata pasien yang datang kepadanya sudah memasuki stadium lanjut karena tidak pernah memeriksakan kondisi hepatitisnya sehingga harapan sembuh juga sangat kecil.

baca juga: 671 Relawan Dimonitor dalam Uji Klinis Vaksin Fase 3

Menurutnya mencegah menjadi kanker hati bisa dilakukan oleh siapa saja, apalagi mereka yang sudah berisiko memiliki riwayat hepatitis B dan C. Selain rutin cek selama 6 bulan sekali, dan pemberian vaksin. Untuk hepatitis B selain pemberian vaksin tetap harus rutin kontrol setiap enam bulan sekali. Namun untuk hepatitis C, saat ini ada vaksin baru yang bisa menyembuhkan 100 persen dan sudah digunakan oleh pasien hepatitis C. Vaksin tersebut pun sudah masuk di Indonesia. (OL-3)

BERITA TERKAIT