18 October 2020, 05:27 WIB

671 Relawan Dimonitor dalam Uji Klinis Vaksin Fase 3


Aiw/H-3 | Humaniora

UJI klinis vaksin Sinovac di Indonesia telah memasuki fase 3 dengan tahap monitoring pada relawan yang telah melakukan pengumpulan darah 14 hari setelah mendapatkan suntikan kedua. Terdapat 1.620 orang yang mengikuti uji klinis, 1.074 di antaranya sudah mendapatkan suntikan kedua, dan 671 yang mengumpulkan darah. “Jadi 671 orang saat ini masuk masa monitoring,” kata Surveillance & Clinical Division Trial Bio Farma Novilia Sjafri Bachtiar dalam diskusi Isu Terkini di Dunia dan di Indonesia Pandemi Covid-19, kemarin.

Ia mengungkapkan, hingga 15 Oktober 2020 terdapat 42 kandidat vaksin covid-19 di dunia, serta negara lain yang berada pada fase 3 selain Indonesia ialah Brasil dan Turki.

Novilia menjelaskan, ada beberapa tipe kandidat vaksin covid-19 yang dikembangkan di dunia, yaitu virus vaccines yang dibagi menjadi weakened virus (melemahkan virus) dan inactivated virus (mematikan virus), viral vector vaccines yang dibagi menjadi replicating viral vector dan non-replicating viral vector, nucleid acid vaccines yang dibagi menjadi DNA vaccine dan RNA vaccine, serta protein-based vaccines yang dibagi menjadi protein sub-units dan virus-like particles.

“Bio Darma memilih (vaksin) yang inactivated karena teknologinya sudah diketahui, kemudian memiliki platform registrasi. Bio Farma juga sudah familier dengan teknologi ini, memungkinkan terbentuknya lebih banyak IG, inactivated ini juga tidak memerlukan alat suntik khusus karena ada beberapa vaksin yang sedang dikembangkan, materinya sangat kecil sekali sehingga memerlukan jet injector untuk disuntikkan ke tubuh kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) PB IDI Dyah Agustina Waluyo menambahkan, kehadiran vaksin perlu dipersiapkan dan diadvokasi dengan baik untuk memastikan efektivitas dan keamanannya bagi masyarakat. Selain itu, dia meminta agar jangan sampai dengan adanya vaksin membuat masyarakat menjadi abai dengan protokol kesehatan. “Ini harus dipersiapkan pemerintah agar vaksin tidak justru menjadi bumerang bagi penatalaksanaan covid-19 di negara kita. Jangan sampai nanti memberikan keamanan semu sehingga masyarakat mengabaikan penatalaksanaan yang lain,” tandasnya. (Aiw/H-3)

BERITA TERKAIT