18 October 2020, 03:50 WIB

Berburu Vaksin ke Negeri Seberang


Ferry Wuryasti | Humaniora

PEMERINTAH gigih mendapatkan pasokan vaksin. Pekan ini, dua menteri, Retno Marsudi dan Erick Thohir menjadi utusan Kepala Negara ke Inggris dan Swiss.

Meski pandemi belum mereda, Menteri Luar Negeri dan Menteri BUMN itu tetap melakukan kerja sama bilateral dan multilateral terkait dengan pemulihan kesehatan dan ekonomi pascapandemi covid-19.

“Alhamdulillah rangkaian perjalanan ke Inggris dan Swiss sangat baik. Penting bagi Indonesia untuk terus menjadi bagian dari dunia dalam menangani covid-19. Kita memastikan keamanan untuk rakyat Indonesia,” kata Erick yang tiba di Tanah Air, Jumat (16/10).

Selain kerja sama penanggulangan pandemi, Retno menyatakan perjalanan mereka juga membahas sejumlah agenda terkait dengan kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan buruh. “Di tingkat bilateral, Indonesia dan negara sahabat semakin memperkuat komitmen kerja sama dengan prinsip saling menghormati.”

Sementara itu, di level mutilateral, Indonesia jadi bagian penting dari komunitas global dalam upaya pemulihan kesehatan di tengah pandemi covid-19.

Di Swiss, Retno dan Erick bertemu dengan Wakil Presiden Swiss dan pelaku bisnis. Menteri Luar Negeri dan Menteri BUMN juga bertemu Dirjen WHO dan CEO Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI), serta perwakilan Unicef.

“Perjalanan ini dalam upaya pengamanan komitmen terkait dengan ketersediaan vaksin, baik dalam kerangka kerja sama bilateral maupun multi- lateral,” tambah Menlu.

Libatkan swasta

Di dalam negeri, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro melihat kesiapan PT Biotis Prima Agrisindo. Perusahaan yang semula memproduksi vaksin untuk hewan itu direncanakan akan mendukung PT Bio Farma.

“Bio Farma perlu dukungan pemerintah dan swasta, khususnya industri farmasi untuk memproduksi vaksin. Industri farmasi swasta yang dilibatkan dalam pembuatan vaksin covid-19 akan berada di bawah koordinasi Bio Farma,” ujar Bambang.

Pelibatan swasta, tambahnya, hanya sebagai subkon dari Bio Farma. Sementara itu, proses tahap uji klinis, registrasi produksi, dan semua persiapan tetap dilakukan Bio Farma.

PT Biotis sudah mengantongi izin sebagai industri farmasi khusus pengembangan farmasi manusia. Pabrik vaksin yang berdiri di atas tanah 45 ribu meter persegi itu berada di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

“Pabrik ini awalnya didesain untuk memproduksi vaksin hewan. Namun, melihat kebutuhan, kami berikhtiar ikut serta memproduksi vaksin untuk manusia,” tambah CEO PT Biotis FX Sudirman.

Di sisi lain, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional terus mematangkan perencanaan vaksinasi. Seperti diungkapkan Sekretaris Eksekutit KPPEN Raden Pardede, pemberian vaksin akan diprioritaskan di wilayah dengan kategori zona merah.

“Alasannya, tentu saja untuk mencegah penyebaran virus yang rentan terjadi pada populasi penduduk yang padat dan mobilitas masyarakat yang tinggi. Terkait kota yang diprioritaskan akan ditentukan Kementerian Kesehatan. Namun, amat mungkin zona merah akan mendapat vaksin terlebih dulu,” tambahnya.

Menurut Pardede, pilihan itu wajar saja. Daerah di pegunungan dengan penduduk tidak padat dan mobilitas warga rendah, kebutuhan terhadap vaksin tidak terlalu mendesak.

“Bukan persoalan senang dan tidak senang. Di pegunungan, tingkat penularan sangat kecil, sedangkan di perkotaan, populasi penduduk dan
mobilitasnya tinggi sehingga rawan penyebaran,” tandasnya. (Aiw/Iam/Nur/N-2)

BERITA TERKAIT