18 October 2020, 02:45 WIB

Kadrun


Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

ISU-ISU sensitif seperti kadrun memang layak mendapat pemerian. Hal ini mengurai agar tidak liar dengan sejuta tafsiran. Kata ini sejatinya hanya akronim kekinian, yang dipelesetkan menjadi candaan dengan sedikit makian dan sindiran.

Sebagai akronim, kadrun berunsur asal kadal dan gurun. Maknai kedua unsur itu secara leksikal dan santun. Kadal ialah reptilia yang dijumpai di hutan, padang rumput, gurun, dan kebun. Pun terdapat di Indonesia, Timur Tengah, dan di mana saja, termasuk negara Kamerun. Singkatnya, kadal gurun hidup dan dijumpai sesuai namanya: gurun.

Ternyata bila dimaknai tanpa sensasi, kadal gurun merupakan gabungan kata dengan arti denotasi: bermakna sepantasnya tanpa menyakiti hati.

Akan tetapi, karena kadrun dimaksudkan sindiran, kata ini menjauh dan menyulut tanggapan karena acuan yang memojokkan. Kadrun menjadi referensi keturunan Arab dan cenderung sektarian. Pun menjadi label intoleran, pro-NKRI bersyariah, bahkan disebut prokek hilafahan. Hal inilah yang menjadi bola liar tanpa kesudahan. Setop!

Sebagai pengetahuan, gurun tidak semata mengarah ke daerah Timur Tengah seperti Arab Saudi. Akan tetapi, gurun juga terdapat di Amerika, yakni Mojave, Gurun Sahara di Afrika, gurun dingin di Antartika, bahkan di Tiongkok, ada Gurun Gobi.

Artinya, istilah kadal gurun atau sahabat gurun sebenarnya tidak relevan jika menggambarkan orang yang kearab-araban atau Islam garis keras. Namun, kata itu bisa juga diartikan sebagai orang Amerika, Tiongkok, dan orang Eskimo.

Populernya kata kadrun talitemali dengan kepentingan. Kata itu dimanfaatkan dengan tujuan stigmatisasi dalam perpolitikan. Setiap ada pencalegan dan pemilihan, kadrun menjadi kata pemisah dua kubu berseberangan. Aneh, bukan?

Masih santer di ingatan ada kata cebong dan kampret. Kedua kata ini serupa kadrun dalam konteks kepentingan. Semuanya ditujukan untuk memojokkan agar satu pihak meraih kemenangan.

Akan tetapi, mengapa nama binatang yang dikorbankan? Mengapa kadal yang dinistakan, mengapa kampret yang salahkan, dan mengapa cebong yang ditertawakan?

Rupa-rupanya, secara bahasa, kata yang muncul dalam segala ujaran sangat lekat dengan keadaan. Masyarakat bahasa pun merespons fenemona sekitar dengan kata yang dilabelkan. Terkadang intensitas keterucapan kata itu pun berlebihan. Sensasi untuk membela diri seakan lepas. Bebas. Tenaga pun terkuras tanpa batas hanya sekadar untuk membalas dan mengulas.

Dalam perpolitikan, kata-kata selarik cebong, kampret, dan kadal kerap diselewengankan guna memodifikasi keterpilihan. Stigma buruk sudah tidak dihiraukan. Terabaikan.

Walaupun tidak bisa dihentikan, kata-kata itu mesti mendapat kejelasan secara kebahasaan. Makna dan rujukan harus mampu menjadi logika pendeskripsian. Kesantuan berbahasa harus dimulai dari semua lapisan, utamanya yang berpendidikan dan berpengetahuan. Para petinggi partai, direksi BUMN, atau siapa pun, menjadi duta bahasa sopan dalam percakapan. Bukankah ungkapan bahwa kata lebih tajam daripada pedang sudah kerap didengungkan. Artinya pula, kata yang diujarkan menjadi ukuran kesantunan.

Terakhir. Kadrun hanyalah akronim dalam denotasi. Kata itu menarik untuk dilirik bila acuannya baik. Akan tetapi, menjadi sensitif bila rangkaian kata itu dihembuskan untuk melabeli. Stigma negatif pun muncul mengiringi. Masihkah ada bahasa baik lain yang kaumiliki? Itu akan lebih berarti!

BERITA TERKAIT