18 October 2020, 03:00 WIB

Wisata Mewah Tepi Sawah


Usman Iskandar | Weekend

PEMANDANGAN kincir angin yang bersanding dengan sawah dan perbukitan itu jelas bukan berada di negeri Belanda, melainkan itulah destinasi wisata yang sejak tahun lalu menjadi favorit baru di Mamasa, Sulawesi Barat.

Dibuka sejak pertengahan 2019, objek wisata bernama Citol Hill di Desa Tondok Bakaru itu menyandingkan pesona alam, khususnya persawahan, dengan spot buatan yang Instagramable. Salah satunya ialah miniatur kincir angin.

Tidak hanya di Mamasa, wisata dengan konsep serupa juga hadir di banyak daerah di Nusantara. Di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat membangun jembatan sepanjang 250 meter di tengah areal persawahan.

ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Wisata sawah di Desa Huntu Selatan, Bone Bolango, Gorontalo

 

Tanpa merusak lahan pertanian, jembatan tersebut menjadi spot pemuas hobi swafoto. Dengan harga tiket sebesar Rp5.000 per orang, objek wisata tersebut mampu mendogkrak perekonomian warga yang sebelumnya hanya mengandalkan panen.

Di Jawa Timur, salah satu destinasi mewah tepi sawah ada di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Usaha kafe di tengah sawah yang dibangun pemuda setempat ini omzetnya mencapai Rp12 miliar sejak dibangun pada 2017.

MI/Bagus Suryo

Wisata kafe sawah di Malang, Jawa Timur.

 

Masih di Jawa Timur, ada pula taman wisata Nakula Park, di Desa Kendalbulur, Tulungagung, yang mengusung wisata kuliner di sekitar persawahan. Tidak sekadar wisata satu spot, aeral persawahan juga dikemas sebagai pendamping wisata olahraga dan petualangan.

ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Nakula Park, Tulungagung, Jawa Timur.

 

Contohnya ialah river tubing atau penyusuran sungai menggunakan ban di aliran Sungai Lugong di Desa Tanjungrejo di kaki Gunung Muria di Kudus, Jawa Tengah. Sederet wisata dengan eksotis terasering juga ada di Ubud, Bali, dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

River tubing di Sungai Logung Kudus, Jawa Tengah.

 

Konsep-konsep wisata tersebut telah menghidupkan arti mewah yang sebenarnya. Bukan lagi bermakna ‘mepet sawah’ sebagaimana guyonan yang kerap dilontarkan orang sejak dulu yang lebih bermakna mendegradasi keunikan yang ada.

Tren wisata baru ini pula yang menegaskan pesona alam di Bumi Pertiwi ini tetap butuh pengemasan yang mengikuti zaman sebab tidak bisa dimungkiri gaya hidup media sosial telah mencetak kelompok wisatawan dengan karakter tertentu. Tidak ada yang salah dengan itu, justru peluang yang harus dimanfaatkan tanpa meminggirkan kelestarian lingkungan. (M-1)

BERITA TERKAIT