18 October 2020, 03:10 WIB

Lebih Produktif, Lebih Baik


Galih Agus Saputra | Weekend

AKHIR September silam, Siti Nabila Triananda baru saja mentas dari bangku kuliah. Bukan hanya gelar sarjana, ia pun mendapat predikat salah satu lulusan terbaik dengan IPK 3,87 dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University.

Padahal, dirinya sempat terbilang mahasiswi sibuk. Selain kuliah, mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan itu juga menjalankan bisnis kecilkecilan, mulai dari berjualan roti, menyediakan jasa desain produk dan visual, sampai mengajar di tempat les.

Bagi Nabila, begitulah ia akrab disapa, bisnis menjadi salah satu hal yang membuat seseorang menjadi tangguh dan hebat. Dalam setiap prosesnya, selalu ada pelajaran yang didapat dan berguna di masa kini maupun di masa depan.

Pada Jumat (16/10), Nabila membagikan pengalaman kuliahnya sambil menjalankan bisnis kepada Muda melalui sambungan telepon. Berikut adalah kutipan perbincangannya. 

Boleh ceritakan pengalamanmu saat kuliah sambil berjualan roti?
Iya, itu kegiatan saya di departemen waktu kuliah, namanya praktikum terpadu. Saat itu, saya berjualan bakery. Namanya Filosofi Roti. Rotinya dibuat berwarna hitam karena waktu itu lagi terkenal makanan semacam itu.  Ada varian seperti keju, cokelat, dan kopi.

Penjualan lewat mana?
Untuk pemasaran, utamanya lewat Instagram. Pemesanannya secara preorder, kemudian dikirim di hari berikutnya. Waktu weekend juga berjualan di car free day di Bogor, selain itu juga di tempattempat ramai di Bogor.

Respons konsumen alhamdulillah cukup tinggi karena waktu itu memang benar-benar baru, belum ada seperti itu. Cuma saat itu tidak melanjutkan, karena harus fokus dengan program magang.

Apa kesan yang kamu dapat?
Mengerti bagaimana rasanya membangun bisnis atau perusahaan dari nol. Meskipun masih dalam skala kecil, tapi bisa mengerti bagaimana produksi, quality control, hingga pemasaran. Belajar juga kreativitas itu apa, termasuk belajar mengatur waktu, mengembangkan produk, dan banyak hal lainnya.

Dari pengembangan produk, kita juga belajar memahami kebutuhan pasar seperti apa. Misalnya, seperti roti ini, dari awal kita harus tahu roti jenis apa yang disukai masyarakat. Manis atau asin, toping yang disukai seperti apa. Nah, dari situ jadi tahu bahan apa yang dibutuhkan, modalnya berapa, sampai tahu nanti waktu jual akan dihargai berapa.

Itu roti hitamnya semacam brownies?
Sebenarnya roti biasa. Warna hitam itu karena adonannya dicampur dengan dark cokelat. Setelah tahu minat masyarakat ini, selanjutnya yang kita lakukan ialah mem-branding-nya. 

Memikirkan bagaimana caranya menggaet konsumen melalui Instagram, entah dari challange, membuat maskotnya, atau yang khas dari roti itu juga bisa dilihat dari tagline-nya yaitu ‘memberi arti untuk kamu yang berarti’. 

Jadi ketika menjual itu, kalau ada seseorang yang ingin membelikan roti untuk teman, keluarga, atau sahabat, nanti bisa menyertakan pesan yang ditulis dalam sebuah surat yang nantinya juga akan diantarkan.

Apakah ketertarikanmu di bisnis kuliner yang membuat kamu berkuliah di bidang teknologi pangan?
Saya tertarik dengan teknologi pangan karena saya suka dunia memasak. Lalu ternyata, dulu waktu cari info di SMA, belajar teknologi pangan itu luas sekali.

Ada dari sisi regulasinya, makanannya seperti apa, teknologinya seperti apa, pabriknya seperti apa, jadi saya tertarik dan waktu itu memang harapannya kelak bisa punya perusahaan sendiri di bidang pangan.

Lalu bagaimana caramu mengatur waktu ketika harus kuliah sambil menjalankan bisnis?
Kalau di kuliah itu sebenarnya kan banyak sekali pilihan untuk kegiatan seperti organisasi, lomba, hingga bisnis, dan lain-lain. Nah, saya memilih untuk fokus bisnis, organisasi, dan kerja paruh waktu dengan mengajar di tempat les.
 
Lalu cara saya mengatur waktu untuk semua itu hanya dengan fokus. Jadi, waktu di kelas saya perhatikan materi sungguh-sungguh, sehingga nanti harapannya waktu di luar, saya bisa fokus lagi untuk mengerjakan lainnya.

Begitu juga sebaliknya. Kuncinya, balance. Selain itu, lebih produktif itu lebih baik karena dari situ kita bisa menghargai waktu, dan kita selalu cepat dalam mengerjakan sesuatu. Semakin banyak waktu luang, menjadikan pekerjaan itu ditunda-tunda, kuliah juga semakin ditunda-tunda. 

Sementara itu, kalau banyak kegiatan seperti organisasi, bisnis, dan bekerja, kita menjadi semakin ingat kalau kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan atau jangan ditunda-tunda.

Jadi kamu kuliah, bisnis roti, dan kerja paruh waktu, sibuk sekali?
Iya kebetulan saya juga merintis bisnis atau jasa desain. Dulu waktu SMA itu saya ikut organisasi. Saat itu belum banyak yang bisa membuat desain, jadi kalau ada apa-apa kami selalu ke percetakan dan itu harus keluar uang. 

Dari situ lalu saya belajar desain secara autodidak untuk kebutuhan organisasi. Lama kelamaan jadi tertarik untuk menekuni dunia desain. Kebetulan juga dari teman-teman dekat kemudian ada yang mulai memesan desain. Alhamdulillah sampai sekarang juga setiap bulan ada yang pesan desain.

Lho kenapa tidak ambil jurusan desain?
Dulu belum punya gambaran dan kebetulan waktu itu memang sedang banyak yang cari informasi tentang teknologi pangan. Dan tidak kepikiran juga kalau ternyata di dunia kuliah itu bisa belajar sambil dapat pesanan desain begitu.

Bagaimana pesanan desain di musim pandemi?
Banyak juga, karena kebetulan di musim pandemi ini juga banyak yang mulai membuka usaha baru. Mungkin karena banyak yang bekerja dari rumah jadi mulai banyak yang merintis bisnisnya.

Saya banyak pesanan dari orang yang memulai usaha baru itu, atau ada juga yang sudah punya usaha dikembangkan lagi seperti itu. 

Seberapa penting belajar bisnis untuk mahasiswa atau anak muda seusiamu?
Penting sekali karena dari situ banyak pelajaran yang bisa ditemui. Saat berbisnis, kita belajar untuk berjuang, berusaha keras, dan mendapat penghasilan sendiri, karena kalau tidak seperti itu kita tidak akan menghargai apa yang kita punya.

Kita juga belajar untuk membuat keputusan. Misalnya di tengah jalan kita menemukan masalah, dari situ kita dilatih untuk menentukan keputusan yang diambil itu harus seperti apa. Critical thinking kita juga terlatih, termasuk bagaimana kita memikirkan pengembangan produk, marketing, dan lain-lain. 

Soft skill seperti itu yang menurut saya tidak cukup kita pelajari dari kuliah. Soft skill itu juga yang menurut saya penting untuk menjadi bekal pascakuliah. (M-2)
 

BERITA TERKAIT