18 October 2020, 01:20 WIB

Seni Instalasi di Muka Candi


MI | Weekend

KARYA dengan ukuran panjang 13 meter, lebar 10 meter, dan tinggi 4 meter itu bukan main-main. Apalagi instalasi seni itu diletakkan persis beberapa ratus meter dari Kedaton dalam kompleks Candi Muaro Jambi. 

Situs yang dibangun sekitar abad 5-7 Masehi itu berjaya pada masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, era Dharmakirti. Karya berjudul Harmoni(S) itu adalah buah kreatif dari seniman kolektif Kilau Art Studio Jakarta yang berkolaborasi dengan perajin materi tanaman gulma resam di desa di Muaro Jambi, Provinsi Jambi. 

Karya  itu dibuat bergotong royong pada September-Oktober 2020. Kurator pameran Bambang Asrini menjelaskan praktik seni semacam itu punya banyak tinjauan. Di antaranya, art activism, site specific art, dan environmental art. Art activism merujuk pada karya yang diproduksi bersama-sama secara kolaboratif dan menjadi aksi pemberdayaan masyarakat lewat seni.

“Menimbang tinjauan wacana dan praktik seni kontemporer yang dikatakan site specific art, tentu akan terhubung pada lokasi dan responsif karya terhadap lingkungan sekitar. Demikian pula jika menimbang materi, yang terbuat dari bahan natural, kita bisa menempatkan karya pada perspektif environmental art,” terang Bambang.

Menurut Bambang, pemilihan lokasi dilandasi pertimbangan Kedaton pernah menjadi tampat pendidikan terbesar di dunia pada 1.200 tahun lalu. Di sana, ada proses belajar-mengajar dengan ribuan murid dan peziarah yang tak hanya menyediakan ilmu spiritualitas Buddha, tapi juga ilmu pengetahuan umum seperti sains, filsafat, sastra, dan seni.

Ketua Komunitas Saepul Bahri mengungkap karya itu mengusung konsep lanskap (bentang alam). Dengan ukuran raksasa, mestinya diletakkan di lokasi yang mendukung agar keindahan dan kemegahannya bisa dinikmati.

“Kebetulan karena kami survei ke wilayah setempat. Kebetulan di depan candi ada tanah kosong, maka kami minta izin. Ini lanskap budaya yang didapat. Jadi tidak terpikirkan sebelumnya, tapi mengalir begitu saja,” ujar Saepul.

Saepul juga mengungkapkan karya itu dihadirkan dengan harapan bisa memberi energi dan daya ketika dihadirkan. Seperti doa bagi sebuah kondisi terterpa musibah, semisal pandemi covid-19 ataupun krisis lingkungan. Karya itu juga dimaksudkan agar bisa menginspirasi serta bermanfaat bagi edukasi dan pengembangan budaya.

“Konsep karya, bagaimana gelombang, gerakan lenturnya garis dari bentukan itu bisa memberi daya, sinergi di mana karya itu dihadirkan,” terang pria yang akrab disapa Epul itu. Menurut Epul, ada 40 orang terlibat dalam proses kreatifnya; 10 seniman dari Jakarta dan 30 perajin daerah. Beruntung pula, masyarakat sekitar mendukung dan sangat antusias.

“Apa yang kami hadirkan ternyata memberi makna pada apa yang telah dilahirkan di situ, nilai-nilai kebudayaannya,” pungkas Epul. (Zuq/M-4)

 

BERITA TERKAIT