18 October 2020, 00:55 WIB

Menyikapi Pandemi 


Abdillah Marzuqi | Weekend

TIGA panel kecil mengapit satu panel besar, tepat di samping kanan dan kiri. Mirip seperti dua daun jendela yang bisa dibuka lebar dan menampilkan sisi dalam sebuah ruang. 

Namun, tidak ada pemandangan layaknya kamar tidur dengan ranjang susun, meja belajar, dan vas bunga. Sebaliknya ada potongan figur manusia dengan deformasi pada wajahnya. Semakin lama semakin banyak figur wajah yang muncul hingga membentuk deretan monster.

Sebelum video berakhir muncul potongan-potongan kalimat seperti monster bentuk baru seusai Frankenstein, masyarakat pandemi, dan setiap orang adalah monster. Itu adalah Ndankenstein karya Nandang Gumelar Wahyudi. 

Dalam deskripsi karya tertulis pandemi memberi banyak ruang kosong, begitu banyak waktu menjadi seolah terjeda. Imajinasi melompat ke berbagai arah, menemukan ladang baru untuk menggembalakan segala kemungkinan, termasuk lompat ke belakang, dan menghidupkan kembali segala hal yang sempat terhenti.

Seni video berdurasi 2 menit 43 detik itu menjadi salah satu karya dalam pamer an daring Manifesto VII Pandemi yang ditampilkan sejak 8 Agustus 2020 hingga 6 Desember 2020. Pameran yang digelar Galeri Nasional Indonesia (GNI) itu menampilkan 217 karya video dari 204 peserta dengan berbagai latar belakang profesi yang tinggal di Indonesia selama masa pandemi covid-19.

Kegiatan bienial itu bertujuan memetakan perkembangan seni rupa di Indonesia, yang kemudian diwujudkan sebagai manifesto atau pernyataan sikap dalam ekspresi seni. Perspektif kerja kuratorial manifesto dilandasi pengamatan atas perkembangan praktik seni rupa di Indonesia, sembari mencermati perubahan serta perkembangan seni rupa di level internasional.

Berkait dengan tujuan tersebut, ada keputusan berani dari tim kurator yang terdiri atas Rizki A Zaelani, Citra Smara Dewi, Sudjud Dartarto, Bayu Genia Krisbie, dan Teguh Margono. Mereka bersepakat untuk menitikberatkan fokus pada perkembangan seni media baru (new media art), yang dianggap sebagai salah satu tanda perkembangan penting dari ekspresi seni rupa kontemporer yang berwatak global. 

Apalagi didorong dan dipercepat dengan kehadiran covid19. Pergeseran kondisi sosiol-kultural  juga otomatis merubah tafsiran dari karya seni dan pelaku seni. Yang jelas dalam pameran itu, setiap karya mempunyai durasi. Bukan karya yang hanya dipotret lalu disajikan secara digital.

“Saya ingin karya itu mengikuti nature-nya digital. Kemudian terpikirlah karya berdurasi yang kurang lebih ditafsirkan sebagai karya video,” ujar Rizki saat dihubungi, Kamis (15/10).

Menariknya, ketimbang keenam Pameran Manifesto sebelumnya, pameran kali ini bisa dibilang sangat berbeda dengan penyuguhan secara daring. Hal itu terkait dengan perubahan situasi sosialkultural akibat pandemi. Menurut Rizki, ketika makna karya bergeser, maka makna seniman pun ditafsirkan ulang sebab biasanya karya seni ketika dirupakan video akan ada pengurangan cita rasanya. 

Dari situlah muncul gagasan untuk melibatkan peserta pameran dengan latar belakang profesi bukan seniman. Semua orang boleh melaporkan tentang covid-19. Lalu bagaimana dengan proses seleksi? Pameran itu memang terbuka untuk umum, tapi tim kurator sengaja menyajikan cara unik untuk memancing partisipasi publik. Mereka membuat undangan yang boleh dibilang sebagai salah satu cara seleksi.

“Sebenarnya di situ ada seleksi. Jadi orang yang mau ikut harus melampaui kepercayaan diri untuk berpameran di Galeri Nasional Indonesia. Kemudian ada undangan kuratorial, mereka harus pelajari karena ada istilah-istilah spesifi k yang hanya dipahami seniman,” tegasnya.

Sebab itu, tidak hanya seniman yang berpartisipasi, tetapi juga profesi lain, di antaranya dokter, perawat, mahasiswa, guru, pelajar, pegawai, dan bahkan ibu rumah tangga.

“Format peserta yang terlibat dalam pameran ini pun berubah. Sebagian pihak bahkan bertanya, kenapa publik juga disertakan? Jika begitu, siapa sebenarnya yang menjadi publik bagi pameran ini?” tambahnya.

Seperti dalam satu karya berjudul Kenyataan Kini Sudut Rumah Sakit oleh Nafisah Az-Zahra. Karya berdurasi 2 menit 18 detik itu hendak mengungkap pandemi yang kian membuat banyak perubahan.

Tenaga medis tak lagi bisa menikmati hidup seperti sebelumnya. Ada yang berubah dalam keseharian, keluarga, dan sosial. Waktu bersama keluarga tidak lagi bisa dinikmati ketika mereka harus lebih lama bertugas di rumah sakit demi merawat pasien covid-19. 

Belum lagi, ketika pulang masih harus membawa rasa khawatir atas keselamatan orang tersayang di rumah. “Mungkin, bukan hanya Bunda, ribuan garda terdepan di bagian penanganan covid-19 lainnya. Namun, apresiasi dan ucapan terima kasih yang sangat besar untuk setiap perjuangan yang dikerahkan oleh para garda terdepan yang bertugas menangani covid-19,” begitu tertera dalam deskripsi karya.

Ratusan karya itu terbagi menjadi 5 kategori besar, yaitu reaksi balik, asimilasi disimilasi, persejajaran, fantasikan, dan gema. Sebagai saran, hindari menikmati karya hanya pada satu kategori dalam satu waktu. Lebih baik menikmati karya dari tiap-tiap kategori.

Ada jalinan makna dan arti untuk tiap karya dari setiap kategori. Layaknya teka-teki, penikmat dibawa pada berbagai kemungkinan arti yang muncul dari tiap hubungan sebab setiap peserta menyajikan cara tanggap berbeda dalam merespons pandemi. (M-4)

BERITA TERKAIT