17 October 2020, 06:25 WIB

Bertepuk Sebelah Tangan di Bumi Cenderawasih


MI/AGUS MULYAWAN | Fokus

PERHATIAN khusus Presiden Joko Widodo terhadap Provinsi Papua dan Papua Barat teramat istimewa jika dibandingkan dengan presiden terdahulu. Pembangunan infrastruktur jalan, pos perbatasan dengan negara lain yang dibuat megah dan canggih, pembangunan pasar modern, tetapi tidak menutup pasar-pasar tradisional, serta yang lebih mencengangkan lagi ialah penyatuan harga bahan bakar minyak yang sama harganya dengan di Pulau Jawa membuat teramat istimewa Papua saat ini.

Presiden Jokowi juga memecahkan rekor sebagai presiden yang rajin menyambangi Bumi Cenderawasih.

Terhitung sudah 12 kali presiden datang ke Papua dan memasuki periode kedua sebagai presiden RI, Jokowi kembali mendatangi Papua sebagai daerah pertama yang dikunjunginya. Presiden pun masih berjanji kembali berkunjung ke Papua dan Papua Barat untuk  memantau percepatan pembangunan sesuai program yang telah disetujui.

Di sisi lain, pemerintah pusat pun telah memberi nilai lebih terhadap Bumi Cenderawasih yang telah mendapatkan sekitar Rp127 triliun alokasi dana otonomi khusus (otsus).

Namum, hingga kini penggelontoran dana yang sangat besar tersebut nyatanya belum mampu mengubah nasib masyarakat Papua. Hal tersebut diperparah lagi dengan kondisi keamanan yang tak kunjung kondusif dari berbagai gangguan kamtibmas, seperti penembakan terhadap warga sipil, penyerangan kepada aparat TNI-Polri yang sedang bertugas, demonstrasi yang berakhir
dengan anarkistis, pembakaran rumahrumah penduduk, teror terhadap warga pendatang, dan teror terhadap warga pribumi yang berseberangan dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Cukup lelah kita mendengar berita-berita teror, kekerasan, dan penembakan yang berujung dengan nyawa melayang, yang korbannya merupakan warga yang tidak tahu-menahu dan tidak punya ambisi
politik tertentu. Para korban merupakan penduduk yang bertani ataupun pendatang yang hanya ingin datang ke Papua untuk hidup mencari nafkah.

Kita semua berharap konfl ik di Papua segera berakhir. Para elite di pemerintahan, masyarakat, dan mereka yang terkenal dengan sebutan KKB diharapkan bisa menyatukan pikiran dan kekuatan dengan disokong sumber daya alam gunung-gunung yang berisi emas berlimpah, dapat bersatu membangun Papua dan Pupua Barat dalam bingkai NKRI.

BERITA TERKAIT