17 October 2020, 06:45 WIB

Penembakan TGPF Berbuntut Saling Ancam


(Tri/Che/Ykb/Ant/P-2) | Fokus

DALAM upaya mengungkap kasus kekerasan di Intan Jaya, Papua, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sempat ditembaki ketika dalam perjalanan dari Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Saat itu, Jumat (9/10), sekitar pukul 15.30 WIT, ada dua perempuan yang mencoba melambatkan iring-iringan rombongan mobil TGPF di wilayah tersebut.

Kemudian, salah satu anggota TNI yang mengawal TGPF, Sertu Faisal Akbar, meminta mereka menepi. Keduanya hanya tersenyum merespons permintaan Faisal.

Tiba-tiba datang tembakan dari atas. Setelah penembakan terjadi, kedua perempuan sudah tidak tampak. Lalu, rombongan TGPF ditembaki dari arah berbeda. Diduga tembakan tersebut untuk memberi kesempatan penembak yang berada di atas melarikan diri.

Peluru dari tembakan itu mengenai kaki kiri dan tangan kiri salah satu anggota TGPF yang juga merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwoko. Sertu Faisal Akbar pun tertembak di bagian perut.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom lantas mengaku penembakan itu dilakukan pihaknya. "Ya TPNPB bertanggung jawab, itu keputusan kami," kata Sebby kepada Media Indonesia, Sabtu (10/10).

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebutkan penghadangan dan penembakan terhadap TGPF Intan Jaya pada Jumat sudah direncanakan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Ia menegaskan aparat akan memburu para pelaku.

"Itu yang sudah mengklaim, dan itu yang akan kita buru. Itu tugas negara memburu yang begitu karena itu kriminal," cetus Mahfud.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyebut anggota tim Satgas Nemangkawi dibantu Brimob dan TNI sudah diperintahkan untuk mengejar para pelaku yang melakukan penembakan rombongan TGPF.

"Kapolda Papua (Irjen Paulus Waterpauw) telah memerintahkan Dirkrimum, Kasat Brimob untuk berkoordinasi dengan TNI dan Satgas Nemangkawi untuk mengejar pelaku penembakan di Intan Jaya," ungkap Awi.

Ketika menanggapi, Sebby menyatakan TPNPB tidak peduli dengan gertakan pemerintah yang akan memburu mereka. Pihaknya akan meladeni tantangan tersebut.

Menurutnya, penembakan itu merupakan bentuk penolakan terhadap TGPF bentukan Menko Polhukam Mahfud MD. "Kami tuan tanah, pemilik negeri. Jadi pasukan TNI/Polri mau cari pasukan TPNPB-OPM silakan datang di medan tempur," tukas Sebby yang mengaku tengah berada di Papua Nugini itu.

Bagi aparat, tidak mudah memburu pelaku penembak TGPF. Kepala Penerangan (Kapen) Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa mengatakan lanskap di Intan Jaya berbukit dan masih terisolasi.

KKB, katanya, menggunakan masyarakat sipil sebagai tameng dalam melakukan aksi teror. Warga setempat dipaksa harus melaporkan apabila ada TNI yang masuk ke kampung.

"Di kampung sendiri, dia (KKB) punya ancaman, suatu aturan, apabila ada TNI datang ke sana dan orang kampung tidak melaporkan memberikan informasi, kampung ini kena denda sehingga kita mau bergerak susah, kita kan pasti ketemu masyarakat," papar Suriastawa. (Tri/Che/Ykb/Ant/P-2)

BERITA TERKAIT