17 October 2020, 05:20 WIB

Kuasa Bahasa Algoritma di Media Sosial


Putri Rosmalia | Teknologi

KEHERANAN melanda seorang ibu rumah tangga asal Depok, Dian Kumala. Ia mengaku bingung karena merasa konten yang muncul di linimasa akun Facebook dan Instagram-nya cenderung monoton.

"Sudah tidak seperti awal punya akun. Sekarang makin itu-itu saja yang muncul," ujar Dian.

Hal serupa dirasakan pula oleh Wulan, warga Ciracas. Selain lini masa yang dipenuhi konten-konten serupa, dirinya juga acap terlewat unggahan dari kawan-kawannya. Kadang, butuh dua hari sebelum unggahan sang teman 'mampir' ke lini masanya di Instagram.

"Lebih cepat kalau saya klik langsung ke akunnya buat lihat postingan terbaru. Malah, kenalan di IG yang paling saya like satu dua kali, malah jadi muncul terus," ungkapnya.

Memang, perilaku platform media sosial tersebut bagi masyarakat awam mungkin terkesan aneh. Padahal, ada satu kata kuncinya, algoritma.

Saat ini, semua media sosial memang telah memiliki konsep algoritma sesuai gaya masing-masing.

Algoritma, suatu konsep berlandaskan ilmu matematika yang memungkinkan platform menyajikan tema konten sesuai kebiasaan para pengguna ketika menggunakan akun mereka. Dengan algoritma, halaman media sosial empunya akun akan dipenuhi dengan konten yang dianggap paling relevan dengan minatnya.

Faktor itu yang membuat akun Instagram milik Dian cenderung monoton. Halaman utama akun Facebook dan halaman explore akun Instagram-nya mayoritas hanya berisi konten yang berkaitan dengan hal-hal yang ia cari atau simak sebelumnya.

Pemanfaatan algoritma untuk menciptakan user experience yang maksimal - - paling tidak di mata kreator platform-- telah dilakukan sejak hampir satu dekade terakhir. Facebook menjadi salah satu pionir dalam hal penggunaan algoritma.

Melalui algoritma, penyedia platform dapat 'memahami' kebutuhan dan kebiasaan penggunanya. Dengan begitu, perusahaan penyedia media sosial akan bisa mendapat keuntungan yang lebih besar dari iklan.

Bahkan, para kreator konten pun dewasa ini 'menumpangi' algoritma platform media sosial agar konten mereka dapat menjangkau lebih banyak pengikut atau penonton. Dengan begitu, menjadi atraktif di mata pengiklan.

Dari survei Influencer Marketing Benchmark Report 2020 terhadap 4.000 responden dari kalangan agen pariwara, pemasar, dan profesional terkait, Instagram dan Youtube menjadi pilihan utama untuk pemasaran via influencer.

Pada 2016, Instagram berhenti memakai sistem kronologi terbalik untuk urutan feed yang muncul di lini masa penggunanya. Artinya, unggahan terbaru dari akun yang diikuti si pengguna, akan muncul teratas di feed-nya.

Penayangan feed kemudian didasarkan pada pemeringkatan algoritma Instagram. Menurut Pusat Bantuan Instagram, teknologi platform itu menggunakan beberapa sinyal untuk menentukan urutan postingan di feed Anda. Antara lain, potensi ketertarikan atau relevansi Anda dengan konten, tanggal unggah, dan interaksi di masa lalu dengan akun pengunggah.

Elemen serupa juga acap dipakai platform media sosial lain kendati formulanya tidak sama persis. Amat mungkin Anda mendapat rekomendasi video untuk ditonton saat membuka YouTube, bukan? Rekomendasi itu didasarkan pada perilaku individu Anda. Sistem algoritma telah menggali tentang apa yang telah Anda tonton di masa lalu dan apa yang ditonton oleh pengguna seperti Anda. Elemen seperti kategori, tagar, dan kata kunci juga menjadi faktor dalam konten yang direkomendasikan pada jaringan tertentu.

Namun, pemakaian algoritma juga menimbulkan kritik. Sebagian besar alasan mengapa algoritma menjadi kontroversial adalah karena pengaruhnya terhadap jangkauan. Ada banyak contoh algoritma yang tampaknya "menyembunyikan" konten di media sosial secara acak.

Algoritma juga amat dinamis. Berubah-ubah demi memberikan pengalaman pakai yang paling optimal bagi pengguna. Hal itu bisa menimbulkan kompleksitas bagi para pemasar dalam mencapai target konsumen mereka.

Pakar forensik digital, Ruby Alamsyah, menjelaskan bahwa pada dasarnya algoritma merupakan sistem yang dibuat secara subjektif oleh setiap platform. Tak ada pakem khusus yang dijadikan landasan oleh setiap perusahaan dalam membuat ketentuan algoritmanya.

"Algoritma itu berjalan sesuai zaman, terus berkembang, dan tak memiliki pakem. Setiap platform punya gaya sendiri untuk menghadirkan user experiences yang maksimal," ujar Ruby ketika dihubungi (14/10). (Fastcompany/Sproutsocial/SearchEngineJournal/M-2)

BERITA TERKAIT