17 October 2020, 04:35 WIB

Permintaan Kredit Baru Meningkat


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan triwulanan (qtq) kredit baru pada triwulan III-2020 meningkat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Hal ini tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada triwulan III-2020 sebesar 50,6%, lebih baik jika dibandingkan dengan -33,9% pada triwulan sebelumnya. Namun, masih lebih rendah jika dibandingkan dengan 68,3% pada triwulan III-2019.

"Berdasarkan jenis penggunaan, meningkatnya pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis kredit. Kenaikan terbesar terjadi pada jenis kredit modal kerja, yang terindikasi dari SBT yang lebih baik dari -19,5% pada triwulan sebelumnya menjadi 68,1%," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjarnako, melalui rilis yang diterima, kemarin.

Pertumbuhan kredit investasi dan kredit konsumsi juga terindikasi mengalami perbaikan, tecermin pada SBT yang membaik masing-masing dari - 75,1% dan -68,6%, menjadi 28,6% dan 42,7%. Membaiknya penyaluran kredit konsumsi, terutama terjadi untuk jenis KPR/KPA dan kredit tanpa agunan.

Secara sektoral, meningkatnya SBT pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh sektor dengan SBT tertinggi pada sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor pertanian, perburuan & kehutanan, serta sektor listrik, gas, dan air.

Dengan melihat hal ini, BI Indonesia memperkirakan, pada triwulan IV-2020, pertumbuhan kredit baru akan lanjut meningkat meski tidak setinggi periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru triwulan IV-2020 ialah kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi, dan kredit konsumsi. Pada jenis kredit konsumsi, penyaluran kredit kepemilikan rumah/apartemen masih menjadi prioritas utama, diikuti oleh penyaluran kredit multiguna dan kredit kendaraan bermotor.

 

Masih lemah

Ekonom BCA David Sumual mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit terimbas dari konsumsi dari kelompok menengah atas yang menahan belanja untuk barang tahan lama dan barang konsumsi yang impor.

Perlambatan kredit ini dia nilai wajar dan terjadi di seluruh dunia. Dari sisi profit industri perbankan pasti akan menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. Selain itu, dikhawatirkan kredit macet (NPL) juga meningkat.

Dari pihak perbankan, Wakil Direktur Utama Bank Victoria Tbk Rusli memastikan pertumbuhan kredit tidak akan signifikan hingga akhir tahun. Sudah cukup baik bagi perbankan bila bisa mempertahankan pertumbuhan kreditnya di posisi yang sedang berjalan. "Karena memang, kalau kita lihat di industri, permintaannya yang tidak ada, jadi bukan suplainya," kata Rusli dalam paparan kinerja, kemarin.

Bank Victoria mencatat pinjaman yang telah diberikan sebesar Rp14,6 triliun sampai dengan kuartal II/2020 (unaudited). Lebih rendah daripada periode sama tahun sebelum yang sebesar Rp 16,2 triliun dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 2,3%. (E-1)

BERITA TERKAIT