17 October 2020, 04:25 WIB

Sewa Ruang Perkantoran Masih Terpukul


(Try/E-3) | Ekonomi

Total penyerapan ruang sewa perkantoran Indonesia pada triwulan ketiga 2020 sebesar 12.225 meter persegi. Jumlah ini menurun signifikan dari rerata sewa ruang kantor tahun sebelumnya yang sebesar 50.000 meter persegi per triwulannya.

Seiring menurunnya permintaan ruang kantor, harga sewa ikut anjlok. Saat ini harga sewa Rp265.696 per meter persegi atau menurun 0,5% dari Rp267.100 di triwulan sebelumnya. "Harga sewa untuk bangunan kelas A masih mengalami penurunan sebesar 0,5% di triwulan ketiga ini jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya," kata Head of Research Jones Lang Lasalle (JLL), perusahaan manajemen realestat dan investasi, James Taylor melalui rilis yang diterima, kemarin.

Di sektor ritel, tingkat hunian sedikit menurun jika dibandingkan dengan triwulan kedua sehingga berada di angka 88%. Sebagian penyewa memilih untuk tidak beroperasi untuk sementara selama pemberlakuan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada pertengahan September.

Baik pemilik gedung dan penyewa bekerja sama dalam mengurangi dampak pandemi covid-19 terhadap bisnis mereka. Pasokan mal baru di masa yang akan datang diperkirakan bertambah sebesar 360 ribu meter persegi dan beberapa di antaranya diperkirakan akan beroperasi pada akhir 2020 dan sepanjang 2021.

Di sektor kondominium, tingkat penjualan kondominium berada di level 62% tanpa ada pasokan baru yang diluncurkan di pasaran. Penyerapan melemah lantaran permintaan di sektor ini umumnya didominasi oleh para pembeli untuk berinvestasi. Namun, kini mereka lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

"Tidak ada penambahan pasokan baru di kawasan CBD pada triwulan ketiga menyebabkan tingkat hunian cenderung stabil di angka 74%. Penyerapan di triwulan ketiga ini didominasi oleh perpindahan penyewa dari gedung grade B ke gedung grade A. Untuk kawasan non-CBD, terdapat satu gedung perkantoran baru yang selesai dibangun di Jakarta Utara sebesar 20 ribu meter persegi. Tingkat hunian di Kawasan non-CBD juga masih stabil di angka 77%," kata Head of Markets JLL Angela Wibawa.

Secara umum, tidak banyak perubahan pada triwulan ketiga jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tidak ada pasokan kondominium baru yang diluncurkan dan mayoritas pengembang masih mengadopsi strategi pemasaran baru yaitu menggunakan teknologi digital, seperti tur virtual, media sosial, dan webinar. (Try/E-3)

BERITA TERKAIT