17 October 2020, 03:30 WIB

Warga DKI Jakarta Aktif Awasi PSBB


(Put/J-1) | Nusantara

KEPALA Satpol PP DKI Jakarta Arifin menyebut seiring sudah semakin lamanya PSBB dilakukan di Jakarta, warga sudah semakin disiplin dan memahami aturan.

Ia bahkan mengatakan, warga ikut mengawasi penerapan protokol kesehatan di tempat umum. Hal itu terlihat dari cukup banyaknya warga yang aktif melaporkan penemuan pelanggaran protokol kesehatan melalui aplikasi JAKI.

"Jangan salah lho. Sekarang warga itu bisa ikut mengawasi. Warga ini suka menjadi relawan-relawan dengan memfoto lalu melaporkan ke aplikasi. Ini langsung kita tindak lanjuti," kata Arifin dalam sebuah diskusi virtual.

Menurutnya, ini bisa menjadi salah satu bentuk sanksi sosial sebab warga tersebut tentunya akan menceritakan pengalamannya menemukan pelanggaran protokol kesehatan tersebut kepada rekan dan jejaringnya melalui media sosial.

"Zaman sekarang serba canggih. Justru kalau ditemukan warga, itu lebih berbahaya karena selain ada sanksi 'by rules' yang kami berikan, juga ada sanksi sosial dari warga tersebut," ungkapnya.

Untuk itu, Arifin menegaskan agar para pelaku usaha disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Meski tidak diawasi petugas selama 24 jam, masyarakat akan menjadi pengamat dan penilai langsung kepatuhan tersebut. "Karena masyarakat kini semakin peduli. Mereka ingin wabah ini cepat selesai dan tertangani," terangnya.

Arifin juga mengatakan Satpol PP DKI Jakarta sudah mengawasi ribuan tempat usaha, warung makan, kafe, restoran, hingga perusahaan dalam menerapkan protokol kesehatan.

Namun, Arifin menyatakan belum memutuskan kebijakan pemberian stiker penanda bagi tempat usaha yang patuh terhadap protokol kesehatan. Saat ini penempelan stiker hanya dilakukan sebagai segel atau tanda tempat usaha harus ditutup sementara karena pelaku usaha yang tidak patuh protokol kesehatan.

Menurutnya, jika stiker tanda patuh protokol kesehatan akan ada dampak yang dirasakan langsung pelaku usaha tersebut.

"Takutnya kalau kita pasang stiker bahwa tempat ini patuh, nanti restorannya malah ramai, malah penuh karena orang berbondong-bondong datang ke situ karena merasa terjamin," ujarnya.

Dampaknya, ketika pengunjung ramai, manajemen akan kesulitan untuk menerapkan protokol kesehatan. (Put/J-1)

BERITA TERKAIT