17 October 2020, 03:57 WIB

Bangun Sistem Pangan yang Lebih Baik


Despian Nurhidayat | Politik dan Hukum

ORGANISASI Pangan dan Pertanian (FAO) menyata kan pandemi covid-19 telah menyingkapkan masih rapuhnya sistem pangan dan pertanian global serta memicu resesi ekonomi dunia. Akibat resesi ekonomi, setidaknya 132 juta orang di dunia diprediksi menderita kelaparan sampai akhir tahun ini.

Perwakilan FAO di Indonesia Victor Mol mengatakan pandemi menambah kekhawatiran baru di area pangan dan pertanian. Namun, di saat yang sama, pandemi covid-19 memberikan kesempatan untuk membangun kembali sistem pangan dan pertanian.

“Lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan inovasi dan kemitraan yang kuat. Setiap orang memiliki peran untuk dilakukan, dari pemerintah, swasta, hingga individu, untuk memastikan makanan sehat dan bergizi tersedia bagi semua,” kata Victor bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2020, kemarin.

Tahun ini, Hari Pangan Sedunia bertema Tumbuhkan, pelihara, lestarikan bersama. Tindakan kita adalah masa depan kita.

Victor mengatakan, melalui tema itu FAO menyerukan untuk membangun kembali dunia dengan sistem pangan yang lebih baik serta pertanian yang lebih tangguh dan kuat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengakui negara-negara di dunia tengah menghadapi masa sulit karena krisis yang terjadi di tiga sektor, yaitu kesehatan, ekonomi, dan sosial. Meski demikian, Edhy optimistis sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi solusi mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kepercayaan diri itu lantaran ia melihat permintaan hasil perikanan Indonesia tetap tinggi di pasar internasional. Terjadi peningkatan ekspor sebesar 6,9% pada semester I 2020 atau setara US$2,4 miliar.

“Peringatan Hari Pangan satu momentum yang baik untuk meyakinkan kita bahwa dalam menghadapi sulitnya kondisi saat ini imbas covid, saya sangat optimistis sektor kelautan dan perikanan menjadi solusi, baik itu lapangan pekerjaan maupun devisa negara,” ungkapnya, kemarin.

Sementara itu, Lumbung Pangan Indonesia (FOI) mengajak semua pihak untuk bersama-sama berkontribusi mengatasi kelaparan yang masih ditemukan pada balita demi mewujudkan balita sehat dan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Petani sebagai subjek

Pada peringatan Hari Pangan Se- dunia ini, Ketua Tani Center LPPM IPB Hermanu Triwidodo mendorong pembentukan konsep korporasi pertanian agar petani dapat lebih terlibat tidak hanya pada produksi atau kegiatan hulu, tetapi juga di hilir.

Hermanu menjelaskan bahwa dalam konsep korporasi tani tersebut, baik pemerintah maupun pelaku usaha harus melibatkan kepentingan petani sebagai subjek pembangunan pertanian dan penyedia pangan bangsa.

“Misalnya ada semacam korporasi itu bagus-bagus saja, tetapi jangan petaninya hilang. Orang lupa bahwa petani perlu tanah untuk bisa hidup. Apakah ada (korporasi) itu, petani kepemilikannya bisa menjadi luas? Banyak hal yang terlewat,” kata Hermanu di Jakarta, kemarin.

Dalam konteks membangun ekosistem bisnis bagi petani, seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo, Hermanu menilai bahwa pemerintah perlu mengevaluasi berbagai kebijakan yang bisa saja kontraproduktif dengan kesejahteraan petani.

Salah satu petani muda Pematang Siantar, Sumatra Utara, Apni Naibaho menilai bahwa korporasi pertanian memang diperlukan, tetapi
harus disesuaikan dengan kebutuhan petani di daerah masing-masing. (Put/Ant/X-10)

BERITA TERKAIT