17 October 2020, 00:08 WIB

Survei :Masyarakat Indonesia Optimistis Perekonomian Akan Membaik


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

PANDEMI Covid-19 sangat mempengaruhi perekonomian negara-negara, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan hasil survei Ipsos, mayoritas masyarakat di Asia Tenggara merasa situasi ekonomi di negara mereka tidak baik, bahkan sangat buruk.

Namun, dibandingkan hasil survei gelombang pertama Mei 2020 (saat negara-negara menerapkan pembatasan ketat), Asia Tenggara melaporkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya untuk Indonesia dan Filipina dengan peningkatan signifikan.

Untuk Indonesia sendiri pada hasil survei gelombang pertama, 84 persen responden mengaku merasakan penurunan pendapatan, sedangkan pada survei gelombang kedua sebanyak 74 persen responden merasakan penurunan pendapatan mereka. Persentase itu turun 10 persen dibandingkan hasil survei gelombang pertama Mei lalu (84 persen).

Melihat 6 bulan ke depan dari sekarang, di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia muncul sebagai negara paling optimistis akan adanya perbaikan ekonomi pada 6 bulan ke depan dibandingkan negara lain dengan persentase 75 persen, disusul Vietnam sebesar 54 persen, dan Filipina 50 persen.

Sedangkan mayoritas masyarakat Singapura justru merasa pesimistis dan hanya 28 persen yang berharap perekonomian dalam negeri mereka akan meningkat.

Baca juga : Erick Thohir: Apresiasi Kepercayaan Negara Lain Terhadap Indonesia

Managing Director Ipsos Indonesia, Soeprapto Tan mengatakan, mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki optimistis yang tinggi akan adanya perbaikan ekonomi domestik di Indonesia secara keseluruhan, terlebih jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara lainnya..

"Perlu kami tekankan bahwa ketika survei gelombang kedua ini dilakukan, DKI Jakarta sebagai Ibu Kota dan pusat mayoritas aktivitas bisnis, sedang dalam status penerapan PSBB ketat kedua. Bila dilihat dari hasil survei yang ada, penerapan PSBB ini tidak berpengaruh secara signifikan pada optimisme masyarakat terhadap situasi kondisi ekonomi di Indonesia," katanya.

Soeprapto berharap optimisme ini bisa menjadi momentum dan referensi untuk Pemerintah pusat maupun provinsi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di Q4 2020, tentunya dengan berbagai stimulus ekonomi yang sedang ataupun akan dijalankan sebagai upaya Pemerintah terlepas dari ancaman resesi,".

Dalam hasil survei gelombang kedua ini, dalam enam bulan ke depan mayoritas masyarakat Indonesia (60 persen) berpendapat pemerintah harus fokus pada penanggulangan Covid-19, 16 persen ingin pemerintah menyediakan stimulus ekonomi terhadap pendapatan mereka, 13 persen ingin pemerintah fokus melindungi pekerjaan masyarakat, 11 persen berfokus menjaga stabilitas harga barang.

Di sisi lain, selama pandemi, masyaakat Indonesia, Singapura, dan Filipina paling berhati-hati untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar. Sebaliknya dengan 51 persen masyarakat Vietnam dan 52 persen masyarakat Thailand yang berbagi dalam sentimen tersebut.

Namun, jika dikonversi ke dalam industri otomotif, sebanyak 47 persen masyarakat Indonesia menunjukkan minat beli kendaraan roda dua (peringkat 3-5 dari skala 5 minat beli).

Pada survei ini, diketahui juga adanya peningkatan penggunaan layanan digital, e-commerce, dan pembayaran non-tunai (cashless payment) oleh konsumen di Asia Tenggara.

Lebih dari 43 persen responden Asia Tenggara membeli lebih banyak barang secara daring, 42 persen lebih masyarakat menggunakan pembayanan non-tunai, dan 29 persen lebih masyarakat melakukan streaming lebih sering.

Di antara negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia (51 persen) dan Singapura (51 persen) mengalami peningkatan terbesar porsi masyarakat yang terlibat dalam aktivitas e-commerce.

Baca juga : Menkeu Ajak Negara G20 Jaga Stimulus Melawan Pandemi

Lebih lanjut, 44 persen masyarakat Indonesia lebih sering menggunakan pembayaran non-tunai/cashless payment. OVO dan Gopay masih menjadi primadona pembayaran non-tunai yang sering digunakan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi daring, dengan masing-masing presentase OVO 71 persen dan Gopay 67 persen.

Sementara itu, mayoritas masyarakat di enam negara Asia Tenggara (81 persen) yakin vaksin Covid-19 akan mulai tersedia di masing-masing negara pada semester pertama tahun 2021, termasuk di antaranya masyarakat Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Hal itu sejalan dengan siaran pers Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi pada Senin tanggal 12 Oktober 2020 bahwa Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Duta Besar RI Djauhari Oratmangun, serta Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir telah bertemu pimpinan tiga produsen vaksin Covid-19 di Tiongkok dan ketiga produsen menyanggupi pemenuhan kebutuhan dosis vaksin COVID-19 untuk Indonesia.

Sebagian besar (37 persen) masyarakat Asia Tenggara saat ini sudah beradaptasi dengan kebiasaan dan rutinitas baru, serta 16 persen mulai melihat pembatasan-pembatasan atau larangan akan segera berakhir.

Perusahaan market research global, Ipsos melakukan survei memahami perkembangan opini dan perilaku konsumen selama krisis Covid-19. Survei diadakan secara online 18-22 September 2020, dengan melibatkan 500 responden dengan usia 18 tahun ke atas untuk setiap negara di Asia Tenggara; Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT