16 October 2020, 11:45 WIB

Perusahaan Berbasis Teknologi pun Tetap Butuh Ruang Kantor


Fetry Wuryasti | Ekonomi

PERUSAHAAN manajemen real estate dan investasi Jones Lang Lasalle (JLL) merangkum bahwa total penyerapan ruang sewa perkantoran Indonesia pada triwulan ketiga 2020 adalah ±12.225 meter persegi, dengan hampir setengah di antaranya dilakukan oleh perusahaan berbasis teknologi.

"Harga sewa untuk bangunan kelas A masih mengalami penurunan sebesar ±0,5% di triwulan ketiga ini dibandingkan dengan triwulan sebelumnya," kata James Taylor Head of Research JLL, dalam rilisnya, Jumat (16/10).

Baca juga: Klaster Perkantoran Bermunculan, Pengamat: Harus ada Evaluasi

Di sektor ritel, tingkat hunian mengalami sedikit penurunan dibandingkan triwulan kedua sehingga berada di angka 88%. Sebagian penyewa memilih untuk tidak beroperasi sementara selama pengetatan kembali PSBB pada pertengahan September.

Baik pemilik gedung maupun penyewa bekerja sama dalam mengurangi dampak pandemi terhadap bisnis mereka. Pasokan mal baru di masa yang akan datang diperkirakan bertambah sebesar ±360 ribu meter persegi dan beberapa diantaranya diperkirakan akan beroperasi di akhir 2020 dan sepanjang 2021.

Di sektor kondominium, tingkat penjualan kondominium berada di level 62% tanpa ada pasokan baru yang diluncurkan di pasaran. Penyerapan melemah akibat permintaan di sektor ini didominasi oleh para pembeli yang bertujuan untuk berinvestasi, namun kini mereka lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas.

“Tidak ada penambahan pasokan baru di kawasan CBD pada triwulan ketiga menyebabkan tingkat hunian cenderung stabil di angka 74%. Penyerapan di triwulan ketiga ini didominasi oleh perpindahan penyewa dari gedung grade B ke gedung grade A. Untuk kawasan non-CBD, terdapat satu gedung perkantoran baru yang selesai dibangun di Jakarta Utara sebesar 20 ribu meter persegi. Tingkat hunian di Kawasan nonCBD juga masih stabil di angka 77%," kata Angela Wibawa, Head of Markets JLL.

Secara umum, tidak banyak perubahan pada triwulan ketiga dibandingkan triwulan sebelumnya. Tidak ada pasokan kondominium baru yang diluncurkan dan mayoritas pengembang masih mengadopsi strategi pemasaran baru yaitu menggunakan teknologi digital, seperti tur virtual, media sosial, webinar, dan lainnya.

"Kami melihat beberapa pengembang lokal maupun asing mulai aktif melirik potensi proyek di titik-titik transit seperti Commuter Line, LRT dan MRT," kata Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL.

Sektor logistik dan perumahan tapak tetap menjadi sektor yang diminati para pengembang lokal dan internasional di Indonesia mengingat besarnya peluang dari sisi sosial-ekonomi negara ini.

Pengembangan pusat-pusat data (data centres) juga menjadi sektor baru yang ingin diketahui oleh operator serta pengembang. Kolaborasi antara pengembang lokal dan asing aktif terlihat dari peluncuran rumah tapak di wilayah Jabodetabek sepanjang tahun ini. (Try/A-1)

BERITA TERKAIT