16 October 2020, 17:04 WIB

Rupiah Melemah Tunggu Stimulus AS


Mediaindonesia.com | Ekonomi

NILAI tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada pada akhir pekan ditutup melemah seiring penantian pasar atas persetujuan paket stimulus lanjutan di Amerika Serikat yang saat ini masih mandek. Rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,05 persen menjadi 14.698 per dolar AS dari sebelumnya 14.690 per dolar AS.

"Pekan ini rupiah banyak didorong faktor domestik, yaktu rilis data neraca perdagangan kemarin yang surplus cukup besar. Ini akan berdampak kepada current account deficit sepanjang tahun ini yang akan menyusut," kata analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Jumat (16/10).

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (15/10) kemarin mencatat neraca perdagangan RI pada September 2020 mengalami surplus US$2,44 miliar dengan nilai ekspor US$14,01 miliar dan impor US$11,57 miliar, sehingga Indonesia mengalami surplus untuk kelima kalinya tahun ini sejak Mei 2020.

Selain itu, lanjut Arya, pelaku pasar juga tengah menunggu UU Cipta Kerja ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo setelah disahkan oleh DPR. "UU Cipta Kerja ini diharapkan akan meningkatkan investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Rully.

Dari eksternal, pasar masih menunggu persetujuan stimulus fiskal di AS. Saat ini terlihat mulai ada kemajuan antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dengan Partai Demokrat mengenai jumlah stimulus yang akan dikeluarkan.

"Untuk pekan depan, saya perkirakan rupiah masih akan tetap stabil, menunggu pengesahan omnibus law dan stimulus fiskal di AS. Tapi memang ada risiko peningkatan kasus covid-19 di berbagai negara," kata Rully.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi 14.699 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran 14.695 per dolar AS hingga 14.748 per dolar AS. Kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan, rupiah melemah menjadi 14.766 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi 14.760 per dolar AS. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT