16 October 2020, 11:17 WIB

Empat Sampel Babi di Nagekeo Positif Demam Babi Afrika


Ignas Kunda | Nusantara

KABUPATEN Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini terserang virus ASF (African Swine Fever) atau Demam Babi Afrika.

Berdasarkan hasil uji sampel pada laboratotium yang dikirim di Denpasar dan Kupang, 4 sampel dari 4 babi menunjukkan hasil positif. Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Fransiskus X.P.G Bethana.

Menurutnya, sampel yang diuji adalah sampel yang diambil dari 4 babi di wilayah Aeramo, Danga dan Boawae. Sampel yang dikirim ke Kupang ada 8 sampel dan yang ke Denpasar ada 9 sampel.

"Dari hasil lab menunjukkan positif. Yang positif ada 4 sampel, berarti 4 ekor babi, di wilayah Danga Aeramo dan Boawae," katanya.

Baca juga: Wali Kota Pematangsiantar Resmikan Kampung Paten dan Panen Raya

Fransiskus menyatakan pihaknya, selama ini, sudah melakukan pengawasan ketat dengan membuat portal pada perbatasan antarkabupaten terhadap lalu lintas babi namun akhirnya tetap tidak terkendali karena adanya daging babi yang dibawa masuk ke wilayah Nagekeo oleh warga secara tersembunyi.

"Masuk ke Nagekeo dari daging babi. Yang selama ini kami lakukan adalah melakukan pengawasan dengan pencegahan dengan membuat portal. Kalau daging babi yang dibawa tidak bisa kita geledah," ungkapnya.

Fransiskus menjelaskan ciri yang dominan babi terserang ASF yakni  demam tinggi dengan suhu di atas 40 derajat, muntah, induk keguguran, diare, serta timbul bintik merah di bagian belakang telinga atau bawah perut (petecie).

Fransiskus melanjutkan, bila ada satu ekor babi yang mati akibat ASF maka di wilayah tertentu bisa dipastikan akan ada 100% kematian babi.

Pihaknya menyesalkan minimnya kesadaran warga soal konsultasi kematian babi atau laporan walaupun sudah diberikan pengumuman.

Ia dan stafnya kini sedang gencar untuk mendekati masyarakat agar memberikan pencerahan soal manajemen kandang dan pakan yang baik dan benar.

"Kita sudah dekati kelompok ternak menerapkan kompartemen atau kandang secara benar agar anjing atau orang tidak bisa sembarang masuk. Yang boleh masuk hanya petugas dinas dan petugas kasih makan yang sudah steril," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT