16 October 2020, 05:45 WIB

Asal-usul Menentukan Laga Lokal


(YH/N-1) | Pilkada

AUDY Joinaldy, calon Wakil Gubernur Sumatra Barat, berpasangan dengan Mahyeldi Ansharullah, didaulat menjunjung gelar adat Datuak Rajo Pasisie Alam.

Ia sah menjadi penghulu atau pucuk adat bagi rumah gadang suku Balaimansiang, VI Suku, Kota Solok. Padahal Audy yang bergelimang gelar akademik lahir dan tumbuh besar di rantau.

Namanya muncul beberapa tahun belakangan jelang Pilkada 2020.

Pengusaha yang sukses di rantau ini mendapat gelar sako (gelar adat yang diturunkan secara matrilineal) sebagai waris dari mamak Audy Joinaldy sendiri, Tuan Pakiah Basa.

Terlepas dari kepatutannya mengemban jabatan penghulu adat, secara kacamata politik, apa yang didapatkan Audy tentunya bisa menjadi modal politik sebab asal-usul sangat penting dalam
laga lokal.

Bahasa di lepau, sebagai ruang dialektika di Minangkabau, seperti suara-suara urang mah nyo (orang mana dia); Ooo, inyo urang awak mah (ooo... dia orang kampung kita itu). Percakapan
seperti itu tak terelakkan dalam obrolan politik keseharian orang Sumatra Barat.

Adagiumnya yang sudah mengental: ado di awak, manga juo nan lain lai atau ada dari kita, tidak perlulah yang lain (pilihan kita) lagi.

Kota Solok yang otomatis menjadi asal Audy untuk menjawab tanda tanya dia dari mana adalah bagian integral Solok Raya. Kawasan ini meliputi Kota Solok, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Solok Selatan.

Wilayah ini sangat dekat dengan Sawahlunto, Sijunjung, dan Dharmasraya. Jika ditotal, ada potensi sejuta suara dari gabungan Solok Raya dengan 3 daerah tersebut. Adapun hasil pemutakhiran
DPS Sumbar pada September lalu ialah sebanyak 3.691.592 orang.

Perinciannya, Kabupaten Solok 281.902, Kota Solok 47.418, Solok Selatan 114.161, Sawahlunto 45.778, Sijunjung 156.595, dan Dharmasraya 143.907. Menariknya, tak ada calon dari 4 pasangan
Pilgub Sumbar yang betul-betul mengakar dari daerah ini.

Tentunya pertarungan akan menarik karena betul-betul terbuka. Para calon pun paham potensi suara Solok Raya adalah harapan untuk memenangi Pilkada 2020.

“Di luar daerah yang tak memiliki calon, persaingan riil di sana lah,” ujar pengamat politik dari perspektif sejarah dan budaya Universitas Andalas, Israr Iskandar, Minggu (11/10).

Apa yang disebut Israr menyederhanakan politik (lokal) Sumatra Barat adalah politik kedaerahan. Ini berbeda dari politik identitas yang berkembang pada pemilu secara nasional tahun lalu.

Politik kedaerahan berbasiskan asal-usul. Cukup itu saja. Adapun politik identitas lebih berbasiskan pada isu SARA. “Pileg kemarin dipengaruhi pilpres. Polarasisasi. Pilkada tidak sepertinya, dan
lebih kepada cerita daerah masing-masing.

Kotaknya  berbasiskan ke daerah. Artinya polarisasi masih ada,” imbuh Israr. (YH/N-1)

BERITA TERKAIT