16 October 2020, 06:07 WIB

Petani Kalasan Kembangkan Padi Organik


Agus Utantoro | Nusantara

PETANI di Dusun Jongkangan, Desa Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman mengembangkan pertanian padi organik dengan penanaman jenis IR-64.

Pengembangan padi organik itu menjadi bagian dalam peluncuran program pengembangan pertanian organik berbasis sumber daya lokal untuk peningkatan taraf ekonomi masyarakat sekitar yang didukung PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC) melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Direktur Utama PT TWC Edy Setijono, di sela-sela peluncuran program, Kamis (15/10), mengatakan program itu merupakan bagian dari sektor pelestarian alam, khususnya bagi lahan pertanian.

Baca juga: Mina Padi, Upaya Pemkab Lamandau Tingkatkan Produktivitas Lahan

Dikatakannya, kegiatan yang merupakan program peningkatan sumber daya pangan lokal ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan terutama dengan hasil pertanian yang berkualitas tinggi.

"Budidaya tanaman organik kini mulai dikenal luas masyarakat seiring  dengan adanya tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik
bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya karena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida," ungkap Edy.

Ia mengemukakan, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bahan pangan organik yang selain dapat memberikan manfaat lebih bagi tubuh juga dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan pangan yang sehat.

Dikatakannya, melalui kegiatan ini, PT TWC juga berharap akan kembali menggairahkan pertanian padi dan sekaligus menaikkan produktivitas di Kapanewon Kalasan, Kapanewon Prambanan, dan Kapanewon Berbah. (Di Daerah Istimewa Yogyakarta, istilah Kecamatan diganti dengan Kapanewon.)

Edy kemudian menyodorkan data dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman.

Dalam data tersebut dicatat produksi padi di Kapanewon Berbah, Prambanan, dan Kalasan terus merosot dalam kurun empat tahun terakhir.

"Khusus di Kapanewon Kalasan, produksi padi sepanjang 2016 hingga 2019 berturut-turut sebanyak 22,11 ton, 19,53 ton, 17,03 ton, dan 16,76 ton," katanya.

Di masa pandemi covid-19 ini, imbuhnya, kegiatan itu diharapkan juga akan dapat membantu meningkatkan kualitas produk pertanian khususnya padi.

Ia menambahkan,  pertanian di Indonesia terutama ketersediaan bahan pangan utama organik yang masih minim. Hal tersebut menjadi urgent saat masyarakat dihadapkan pada pandemi covid-19 yang memaksa masyarakat untuk hidup lebih sehat dan berkualitas.

Pada program pertama ini, dilakukan penanaman padi di lahan seluas 1.000 meter persegi untuk sekolah lapangan.

Sementara untuk implementasinya, dilakukan di lahan seluas 1,2 hektare dengan masa tanam hingga panen sekitar 85 hari.

Panewu Kalasan Siti Anggraeni berharap melalui kegiatan ini bisa menumbuhkan kemandirian pangan. Selain itu, bisa meningkatkan taraf hidup warga desa dengan nilai jual yang tinggi. (Di Daerah Istimewa Yogyakarta, jabatan Camat diganti dengan sebutan Panewu)

"Kami berharap program ini juga bisa diimplementasikan kepada desa-desa lainnya di wilayah Kalasan yang memiliki lahan produktif untuk pengembangan bahan pangan organik ini," terang Siti.

Dalam kegiatan ini, dilakukan pula tradisi Labuhan bersama warga masyarakat sekitar. Hal itu menjadi pertanda bergantinya semangat serta kesadaran baru bagi petani di Dusun Jongkangan ini. (OL-1)

BERITA TERKAIT