16 October 2020, 04:13 WIB

BPS Prediksi Kenaikan Produksi Beras


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

BADAN Pusat Statistik memprediksi produksi beras sepanjang 2020 akan mencapai 31,63 juta ton dengan luas panen padi 10,79 juta
hektare. Angka itu naik 1% atau 310.000 ton dari total realisasi produksi beras selama 2019 yang sebesar 31,31 juta ton.

Perkiraan itu berdasarkan realisasi dalam rentang Januari-September dan penghitungan potensi di Oktober hingga Desember.

“Realisasi Januari sampai September 9,01 juta hektare, turun 2,97% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tapi potensi Oktober-Desember
itu diperkirakan naik 384.000 hektare sehingga secara total pada 2020, dengan catatan potensi sesuai realisasi, luas panen padi akan meningkat 1,02%, dari 10,68 juta hektare di 2019 ke 10,79 juta hektare di 2020,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, kemarin.

“Karena luas panen meningkat, otomatis produksi padi meningkat. Potensi produksi padi diperkirakan 55,16 juta ton gabah kering giling. Meningkat 1,02%. Kalau berdasarkan realisasi sampai September memang menurun, tapi kita harap potensi Oktober-Desember bisa terwujud,” sambungnya.

Potensi luas panen pada Oktober hingga Desember sendiri mencapai 1,78 juta hektare dengan potensi produksi beras di waktu yang sama mencapai 9,71 juta ton.

Suhariyanto menambahkan, berdasarkan provinsi, Jawa Timur potensial tumbuh hingga 4,61% di 2020 dan diikuti sentra produksi padi di provinsi lain, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra Utara.

BPS juga mencatat adanya kenaikan upah nominal buruh tani pada September 2020 sebesar 0,08% secara bulanan menjadi Rp55.719
per hari dari Rp55.677 per hari di Agustus 2020. Itu juga diikuti dengan kenaikan upah riil buruh tani sebesar 0,15% menjadi Rp52.837 pada September 2020 dari sebelumnya Rp52.759 di Agustus.

Terpisah, Peneliti Center of Food, Energy and Sustainable Development dari Institute Development of Economics and Finance (Indef ), Rusli Abdullah, menilai potensi surplus produksi beras di kisaran 2,26 juta ton pada 2020, tidak lebih besar daripada di 2018 yang sebesar 2,85 juta ton.

Rusli menilai surplus beras yang menyusut sejak 2018 itu menandakan program cetak sawah yang dilakukan belum optimal. Hingga saat ini, sentra produksi beras terbesar masih didominasi wilayah di Pulau Jawa.

“Dengan potensi surplus itu, hasilnya hanya akan mencukupi untuk kebutuhan konsumsi satu bulan, di Januari 2021 saja. Di Februari tidak bisa menutupi karena biasanya baru ada panen di bulan Maret,” sambung Rusli.

Stok beras

Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik menyebut ketersediaan stok beras masih besar di tengah ancaman cuaca ekstrem akibat La Nina. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi fenemona global tersebut terjadi di akhir 2020 hingga awal 2021. Itu akan berakibat pada tingginya intensitas hujan di beberapa wilayah dan dapat menjadi sebab gagalnya produksi padi di wilayah terdampak.

Kepala Bidang Informasi dan Humas Perum Bulog Tomi Wijaya menuturkan, stok yang dikuasai Bulog saat ini masih cukup besar, sekitar 1,04 juta ton. “Harapan pemerintahkan cadangan stok 1 juta sampai 1,5 juta ton. Artinya angka itu masih sesuai harapan,” kata Tomi. (Ins/X-11)

BERITA TERKAIT