15 October 2020, 11:45 WIB

Demi Kesehatan Anak, Penting Mengedukasi para Orang Tua Soal Gizi


Mediaindonesia.com | Humaniora

ANGKA stunting di Indonesia terbilang masih cukup tinggi. Hal itu karena banyak orang tua yang belum mengerti betul soal pentingnya gizi bagi anak-anak mereka.

Tidak sedikit orang tua yang memberikan kental manis buat anak mereka. Padahal produk tersebut dinilai tidak cocok untuk bayi sampai 12 bulan dan tidak dapat digunakan sebagai sumber gizi.

Baca juga: Pemerintah Jamin Kebutuhan Gizi Anak Selama Pandemi

Oleh karena itu, peran pemerintah dalam melakukan sosialisasi aturan mengenai produk kental manis perlu terus dioptimalkan. Sosialisasi peraturan seharusnya dilakukan pemerintah secara menyeluruh kepada masyarakat. Sebab, yang mengalami mispersepsi akibat iklan kental manis selama ini adalah masyarakat.

Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Rizal E Halim mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi terbatas 2 Tahun PerBPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, yang diselenggarakan secara virtual Kamis (15/10).

“Kental manis walaupun ada kandungan susu tapi tidak dominan dan itu relatif kecil. Saya setuju bahwa ada persoalan inkonsistensi, dan hal itu berpotensi konflik. Kita pernah berdiskusi dan kita sepakat kata susu akan dihilangkan. Waktu itu permintaan kami adalah pre edukasi masyarakat. Edukasi harus dilakukan,” jelas Rizal.

Menurutnya, yang bisa dilakukan ke depan, selain mengkritisi peraturan, perlu dilakukan upaya demarketing. Ia menegaskan demarketing tersebut tidak akan mengganggu usaha, sehingga pelaku usaha tidak perlu khawatir. “Ada strategi lain dalam pemasaran yang dapat dilakukan,” ujar Rizal.

Sementara itu,  Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dra Chaerunissa, M.Kes mengusulkan perubahan istilah produk susu kental menjadi produk penambah rasa dan batasan penggunaan SKM di atas 5 tahun. Karena pada usia itu merupkan usia emas.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Peneliti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Natalya Kurniawati. Menurutnya, persoalan kental manis disebabkan karena mindset bahwa produk ini adalah susu telah mengakar selama bertahun-tahun. Ditambah literasi gizi masyarakat menengah ke bawah masih rendah.

“Riset tentang literasi pangan, pada 2018, ketika masyarakat tahunya empat sehat lima sempurna, belum ke pedoman gizi seimbang. 65% dari responden yang YLKI survei dari 400 rumah tangga di Depok dan Solo, menyatakan tidak tahu tentang pedoman gizi seimbang bahkan selepas ASI menggunakan kental manis untuk balita,” ujar Natalya.

Hasil riset tersebut juga menunjukan susu menjadi hal krusial di masyarakat di mana konsumen di Depok, sebesar 21,2%  menempatkan susu kental manis sebagai tambahan gizi di menu makanan. Kemudian 35% di Solo menyatakan kental manis masuk menjadi menu makanan sehari-hari di mana dalam keluarga ini terdapat anak-anak usia 5-18 tahun.

Melihat fenomena tersebut, Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) meminta BPOM  melakukan revisi ketentuan tentang susu kental manis pada PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT