15 October 2020, 17:46 WIB

Redakan Krisis, Presiden Kyrgyzstan Pilih Mundur


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Kyrgyzstan Sooronbay Jeenbekov mengundurkan diri dari jabatannya. Dia ingin mengakhiri krisis akibat pemilihan parlemen yang disengketakan awal bulan ini.

Aksi protes meluas setelah pemilu pada 4 Oktober dimenangkan sejumlah partai yang setia pada Jeenbekov. Muncul dugaan adanya pembelian suara publik. Hasil pemilu akhirnya dibatalkan, namun belum mampu meredakan ketegangan.

"Saya tidak ingin ada dalam sejarah Kyrgyzstan sebagai presiden yang membiarkan pertumpahan darah dan penembakan terhadap rakyat. Saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri," ujar Jeenbekov dalam pernyataan resmi.

Baca juga: PM Kyrgyzstan Mundur Pasca-kerusuhan Pemilu

Lebih dari 1.200 orang terluka dan satu orang tewas dalam bentrokan pascapemilu. Pendukung Perdana Menteri (PM) Sadyr Japarov berkumpul pada Kamis waktu setempat. Mereka pun menuntut pengunduran diri Jeenbekov.

"Situasi saat ini dekat dengan konflik dua sisi. Di satu sisi pengunjuk rasa, di sisi lain aparat penegak hukum," imbuh Jeenbekov.

Sebelumnya, Jeenbekov menerima pencalonan Japarov sebagai PM Kyrgyzstan. Namun, Japarov bersikeras agar sang presiden mundur dari jabatannya.

Jeenbekov meminta Japarov dan politisi lain untuk menarik pendukung mereka dari Ibu Kota Negara. Sehingga, warga Bishkek bisa kembali ke kehidupan yang damai.(AFP/OL-11)

 

BERITA TERKAIT