15 October 2020, 11:21 WIB

FDA Setujui Inmazeb Untuk Pengobatan Antibodi Ebola


Nur Aivanni | Humaniora

AMERIKA SERIKAT pada Rabu (14/10) menyetujui pengobatan antibodi buatan laboratorium untuk melawan virus Ebola yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Regeneron setelah terbukti secara signifikan mengurangi tingkat kematian dalam uji klinis. Obat tersebut dikembangkan menggunakan platform teknologi yang sama dengan yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan terapi eksperimental melawan covid-19, yang diterima Presiden AS Donald Trump setelah terkena virus korona.

"Tindakan hari ini menunjukkan komitmen berkelanjutan FDA untuk menanggapi ancaman kesehatan masyarakat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, berdasarkan sains dan data," kata Komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) Stephen Hahn.

Obat yang disebut Inmazeb itu diberikan secara intravena dan merupakan campuran dari tiga antibodi monoklonal yang mengikat protein permukaan (disebut glikoprotein) dari virus Ebola untuk mencegahnya menyerang sel manusia. Inmazeb diteliti pada 382 pasien dewasa dan anak-anak, kira-kira setengah dari mereka menerima obat sementara setengah lainnya menerima obat kontrol.

baca juga: IDI: 9 Dokter Meninggal Akibat Covid-19 Selama Oktober

Dari pasien yang menerima Inmazeb, 33,8 persen meninggal setelah 28 hari, dibandingkan dengan 51 persen dari 153 pasien yang menerima obat kontrol. Penelitian tersebut dilakukan di Republik Demokratik Kongo pada 2018 dan dilaporkan dalam New England Journal of Medicine pada 2019. Efek samping yang paling umum adalah demam, menggigil, detak jantung cepat, dan pernapasan cepat, tetapi itu juga gejala umum infeksi virus Ebola.

"Kami sangat bangga bahwa FDA telah menyetujui Inmazeb," kata Presiden dan Kepala Petugas Ilmiah Regeneron yang berbasis di negara bagian New York, George Yancopoulos.

FDA mengatakan pasien yang menerima Inmazeb harus menghindari vaksin Ebola hidup pada saat bersamaan, karena obat tersebut akan melemahkan kemanjuran vaksin. Ervebo, vaksin pertama untuk pencegahan penyakit virus Ebola, telah disetujui oleh FDA pada Desember 2019. (AFP/OL-3)
 

BERITA TERKAIT