15 October 2020, 05:33 WIB

Pasar Jamu di Rusia dan Malaysia Cukup Besar


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

JAMU salah satu keunggulan lokal Indonesia memiliki potensi besar di pasar domestik bahkan luar negeri. Apalagi mengingat selama pandemi Ccovid-19 ini telah menggeser perilaku dan pola konsumsi masyarakat dunia ke arah yang semakin sadar kesehatan. Beberapa pihak menunjukan komitmennya untuk mendukung jamu yang terbuat dari rempah-rempah asli Indonesia ini diproduksi secara masif dan bisa dirasakan manfaatnya secara global.

Potensi jamu yang sangat besar ini dirasakan oleh Jose Antonio Tavares calon Duta Besar Indonesia untuk Rusia & Belarus. Ia mengatakan secara umum impor Rusia untuk produk suplemen Indonesia termasuk dalam kategori food preveration sebesar 435 ton pada tahun lalu atau senilai 1,5 juta dolar AS.

"Ekspor suplemen dan herbal Indonesia naik turun sebenarnya. Data terbesar yaitu 2015 mencapai 196 ton dengan nilai 2,3 miliar dolar AS," kata Jose pada webinar Jamu Modern & Kosmetik Indonesia, Penelitian dan Pasar Negara ASEAN, Rusia & Eropa Timur, Rabu (14/10).

Ia melanjutkan, beberapa produsen jamu atau herbal Indonesia antara lain Sidomuncul dan Kalbe Farma.  

"Jenis jamu yang dapat diterima masyarakat Rusia adalah jamu modern dalam bentuk kapsul, cair serta minuman," lanjutnya.

baca juga: Tidak Ada Penarikan Izin ke Pemerintah Pusat

Tak hanya di Rusia, jamu juga sudah populer di Malaysia. Dikatakan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Agung Cahaya Sumirat, keberadaan jamu di Malaysia mudah ditemukan di pasar tradisional. 

"Jika datang ke pasar tradisal Malaysia dimanapun niscaya akan bertemu dengan warung jamu seperti halnya di Indonesia," kata Agung.

Agung menambahkan, jamu atau yang dikenal dengan nama maajun ini semakin meningkat di era pandemi. Pasalnya Malaysia sangat peduli dengan kesehatan. Seperti ketika perintah kawalan pergerakan atau lockdown warga Malaysia cenderung taat pada aturan, termasuk mengkonsumsi suplement herbal. Malaysia juga berusaha untuk menciptakan produk herbal bernilai tinggi. Untuk itu, perkembangan industri jamu masuk ke dalam The Economic Transformation Program.

Ia mengatakan Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan mempredisi local market untuk Malaysia meningkat 15% per tahun dari RM 7 miliar (2,3 miliar dolar AS) di tahun 2010 menjadi RM 29 miliar (7 miliar dolar AS) di tahun 2020. Di Malaysia juga ada penambahan luas lahan untuk pengembangan dan produksi tanaman herbal. 

"Terutama di Pahang, Johar, dan Perak dengan pertumbuhan luas lahan dari 1000 ha di tahun 2010 menjadi 4000 ha di tahun 2020," kata Agung. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT