15 October 2020, 05:30 WIB

Dunia Usaha Mulai Pulih di Seluruh Sektor


Fetry Wuryasti | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mencatat mulai membaiknya kegiatan dunia usaha di kuartal III-2020. Berdasarkan hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang digelar BI, kegiatan usaha yang mulai pulih terjadi di seluruh sektor, seperti industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan yang didukung oleh penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB) di berbagai wilayah.

“Perbaikan kegiatan usaha terjadi pada seluruh sektor ekonomi,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko di Jakarta, kemarin.

Mulai cerahnya dunia usaha di kuartal III-2020 itu tecermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) pada kuartal III-2020 sebesar -5,97%, membaik dari -35,75% pada kuartal II-2020.

Beberapa sektor yang mulai mencatat kinerja positif, yaitu sektor keuangan, realestat dan jasa per­usahaan (SBT 0,26%), listrik, gas,  air bersih, serta pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan dengan SBT masing-masing sebesar 0,18%.

Pada kuartal IV-2020, responden memperkirakan kegiatan usaha akan mencatat kinerja positif dengan SBT sebesar 2,12% meski masih lebih rendah jika dibandingkan dengan SBT 7,79% pada kuartal IV-2019.

“Hal ini sejalan dengan optimisme penerapan AKB yang dapat mendo­rong permintaan masyarakat,” kata Onny.

BI juga merilis membaiknya kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal III-2020 meski masih dalam fase kontraksi. Hal itu tecermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) sebesar 44,91%, naik dari 28,55% pada kuartal II-2020 meski masih di bawah 52,04% pada kuartal III-2019.

“Perbaikan terjadi pada seluruh komponen pembentuk PMI-BI dengan indeks tertinggi pada volume pesanan barang input sejalan dengan implementasi adaptasi kebiasaan baru yang mendorong permintaan dan kemudahan distribusi,” kata Onny.

Membaik di 2021

Di kesempatan berbeda, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pertumbuhan industri pengolahan pada akhir tahun ini diprediksi masih akan terkontraksi hingga -2,4%.

“Pada buku kedua nota keuangan beserta rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2021, pertumbuhan industri pengolahan pada akhir tahun ini diprediksi akan tertekan sampai -0,5% hingga -2,4%,” kata Agus dalam webinar Startup4industry yang bertajuk Startup, Tech Provider 4 Industry yang diadakan Kemenperin, kemarin.

Namun, dengan prediksi mulai membaiknya ekonomi di 2021, ia tetap optimistis kinerja industri pe­ngolahan di 2021 akan mampu tumbuh sebesar 4,7%-5,5%. Kemenperin bahkan telah menetapkan target program substitusi impor sebesar 35% di tahun 2022.

“Target substitusi impor ini diharapkan bukan hanya menyentuh produk  tetapi juga menyentuh penggunaan teknologi,” tegas Agus.

Mantan Menteri Sosial tersebut mengingatkan, untuk meraih potensi pasar dan bisa unggul dalam kompetisi maka pelaku usaha harus akrab dengan inovasi dan teknologi karena saat ini sudah menjadi sebuah keharusan di tengah industri.

“Sebagai contoh, salah satunya melalui peran startup sebagai teknologi provider,” ungkapnya. (Iam/E-2)

 

BERITA TERKAIT