15 October 2020, 05:10 WIB

Pasar Otomotif Indonesia Terbuka Lebar


Iam/E-3 | Ekonomi

Dirjen Industri Logam, Mesin Alat Transportasi dan Elektroni­ka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufiek Bawazier menilai pasar otomotif Indonesia masih memiliki prospek cukup besar sebab rasio kepemilikan mobil masih rendah.

“Hal itu disebabkan car ratio Indonesia yang masih rendah, yaitu 87 mobil per 1.000 penduduk, menandakan industri otomotif berpotensi besar tumbuh ke depannya,” kata Taufiek saat webinar Prospek Pemulihan Ekonomi Sektor Industri Otomotif Nasional yang diadakan Kementerian PPN/Bappenas, kemarin.

Menurut Taufiek, rasio itu masih dapat digerakkan lagi sehingga menciptakan prospek otomotif Indonesia lebih besar lagi. Selain itu, penjualan mobil di Indonesia mayoritas di harga Rp200-Rp300 juta. Harga itu dipengaruhi oleh gross national product (GDP) per kapita Indonesia yang masih di angka US$4 ribu.

“Peningkatan rasio itu beriring­an dengan meningkatkan daya beli, yakni meningkatkan GDP yang masih US$4 ribu sementara negara Eropa GDP sudah mencapai US$40-US$50 ribu,” ujar Taufiek.

Dia mengatakan untuk itu dibutuhkan regulasi yang mendukung industri otomotif sekaligus pemulihan ekonomi di era pandemi ini. Pembelian mobil, kata dia, bisa ditingkatkan dengan instrumen fiskal, misalnya pengurangan pajak, penurunan harga listrik, dan biaya yang menjadi beban industri dihilangkan oleh pemerintah.

“Kemudian penentunya ialah demand, bagaimana masyarakat dapat menggerakkan perekonomian ini. Upaya lainnya yakni mengusulkan mengurangi pajak daerah hingga Desember untuk meningkatkan recovery,” jelasnya.

Sektor otomotif dinilai sangat besar dampaknya pada sektor perekonomian. Karena itu, tidak heran banyak negara termasuk Indonesia memberikan stimulus ke sektor tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Atong Soekirman mengatakan pihaknya telah melakukan relaksasi industri yakni mempercepat proses perizinan untuk alih industri dan mempercepat proses impor bahan baku dan bahan baku penolong yang dibutuhkan. (Iam/E-3)

 

BERITA TERKAIT