15 October 2020, 03:10 WIB

Saat Bangunan Anak Presiden Ditantang Penjahit


Widjajadi | Nusantara

KONTESTASI Pilkada Kota Surakarta, Jawa Tengah, 9 Desember nanti memunculkan dua pasangan calon yang akan berebut suara. Kemunculan pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo dari jalur independen memberikan warna unik.

Tampilnya Bagyo-Supardjo (Bajo) jadi perhatian karena yang dilawan ialah duet Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung penguasa di DPRD Surakarta, yakni PDIP bersama koalisi 7 parpol. Sangat unik karena kemunculan pasangan penjahit dan ketua RW yang menjadi lawan anak Presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan Sekretaris PDIP Kota Surakarta itu hanya berbekal 38.831 dukungan KTP warga.

Dukungan itu pun sempat dipermasalahkan ke Bawaslu oleh Paguyuban Warga Solo Peduli Pemilu (PWSPP) lewat posko hukum lantaran ada 3 dokumen dukungan yang dipalsukan. Sebaliknya, Gibran-Teguh didukung PDIP sebagai parpol mayoritas parlemen dengan modal 30 kursi. Belum lagi dukungan dari 4 parpol di parlemen, yakni Gerindra (3 kursi), PAN (3 kursi), Partai Golkar (3 kursi), dan PSI (1 kursi), serta masih ditambah partai nonparlemen, seperti NasDem, PPP, dan PKB.

Ketua Tim Pemenangan PDIP Surakarta Putut Gunawan menyatakan, untuk memenangkan Gibran- Teguh, pihaknya menargetkan suara di atas 80%. Modalnya, yakni kemenangan PDIP pada Pileg 2019 yang berhasil meraup 63% suara ditambah suara koalisi parpol dan relawan.

"Semua bekerja keras. Sebanyak 30 kader PDIP yang duduk di DPRD siap menjadi mesin partai sebagaimana saat mereka bertarung di Pileg 2019 lalu, masih ditambah akar rumput, dan juga kerja keras 4 parpol pendukung di parlemen, serta beberapa parpol nonparlemen," kata Putut.

Gibran juga sangat optimistis target suara di atas 80% bukan hal yang ngoyoworo (mengada-ada) kalau semua dilakukan dengan kerja keras dan saling bersinergi. Target meraih suara mutlak itu, disebut Teguh Prakosa selaku pendamping Gibran, sebagai keseriusan dan tidak memandang enteng lawannya. "Kami sudah mengukur dan membuat strategi khusus. Siapa pun lawan kami, harus disikapi dengan kerja keras di lapangan," ujarnya.

Di sisi lain, tim pemenangan Bajo, Robert Hananto, menegaskan paslon yang diusung ormas Tikus Pithi bertekad menggalang koalisi rakyat guna menumbangkan koalisi gemuk PDIP. Menurutnya, melawan anak presiden dalam kontestasi Pilwalkot Surakarta merupakan hal luar biasa.

Saat kampanye hingga coblosan 9 Desember, kata Robert, tim pemenangan mengerahkan 5.000 relawan untuk meyakinkan rakyat bahwa Bajo layak dipilih dan siap membawa perubahan untuk Kota Surakarta.

Sejauh pemantauan Media Indonesia di lapangan, kampanye Gibran-Teguh dan Bajo mendapatkan tanggapan berbeda dari warga. Kampanye Gibran dengan model blusukan online dari kampung ke kampung mendapatkan sambutan hangat dari warga yang kemudian mencurahkan aspirasi mereka kepada Gibran yang menyapa lewat virtual box kampanye.

Adapun kampanye Bajo yang banyak diwakili tim relawan yang datang dari berbagai kota di Jateng dan Jatim saat door to door ke rumah warga kurang memikat. Ini bisa jadi karena relawan kurang dibekali pemahaman lengkap hingga kadang kurang tepat dalam penyampaian.

Sumber: Tim Riset MI-NRC

Perjalanan Politik Gibran Rakabimung Raka.

 


Sudah selesai

Banyak pengamat menilai Pilkada Surakarta 2020 sebenarnya sudah selesai. Unggul jauh soal dukungan politik dan fi nansial, Gibran-Teguh terlalu kuat dan bukan lawan yang seimbang bagi Bajo.

Pengamat politik Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Agus Riewanto, mengatakan pilkada Surakarta agak berbeda ketimbang di daerah lain. "Salah satu perbedaannya ialah partai politik mayoritas di parlemen dikuasai PDIP. Artinya, siapa pun yang dicalonkan, di atas kertas pasti menang. Dan, itu sudah terjadi sejak Pilkada 2005 (saat Jokowi berduet dengan FX Hadi Rudyatmo) dicalonkan PDIP," terangnya.

"Seandainya bukan Gibran pun tetap menang. Lah ini apalagi yang dicalonkan kebetulan anak presiden," imbuh pengajar hukum tata negara Fakultas Hukum UNS itu.

\Karena bukan kontestasi yang imbang, lanjut Agus, yang menjadi pertanyaan bukan siapa pemenangnya, melainkan berapa persen suara yang didapat Gibran-Teguh. Kemenangan harus spektakuler.

"Jika seorang anak presiden yang diusung PDIP sebagai partai mayoritas, jelas menang. Namun, kalau kemenangan hanya 50% lebih sedikit, jelas tidak membanggakan. Pilkada Surakarta 2020 sebenarnya sudah selesai meski tahapannya sendiri masih berlangsung." (X-8)

BERITA TERKAIT