15 October 2020, 00:30 WIB

Memimpikan Museum Anggrek


MI | Humaniora

ADA satu mimpi Musimin yang sampai sekarang belum tergapai. Dia memimpikan ada sebuah museum hidup yang menyimpan ratusan spesies anggrek Merapi di habitatnya. 

Tidak di tengah-tengah kota atau di pinggiran desa, tetapi museum yang terletak di hutan sehingga kelestarian habitat alam semesta benar-benar terjaga. “Saya sangat berharap ini sebagai museum hidup anggrek Merapi,” kata Musimin sambil mengitarkan tangannya di sekeliling dia berdiri.

Posisi Musimin berdiri tepat berada di lokasi adopsi anggrek, tak jauh dari rumahnya, hanya sekitar 30 menit perjalanan kaki. Di situlah, menurut Musimin, lokasi yang cocok sebagai museum anggrek karena terdapat inang dan habitat ekosistem hutan yang masih terjaga.

Sejak kecil, dan cerita dari leluhurnya, lokasi tempat Musimin berdiri selalu terhindar dari bencana erupsi Merapi. Menurut Musimin, selama 100 tahun aktivitas Gunung Merapi, lokasi sisi selatan Gunung Merapi, belum pernah terjadi bahaya besar, seprti terhindar dari lahar dan awan panas.

“Alhamdulillah, sejak kecil saya hidup di sini rasanya aman. Alhadulillah di sini hutannya lestari,” kata Musimin terus bersyukur.

Dulu, bersama Sulistiono, dia pernah mendata inang dan semua spesies anggrek Merapi baik dari sisi timur, utara, barat, maupun selatan. Di lokasi itulah tempat yang diangap cocok untuk museum hidup.

Itulah salah satu yang mendasari kenapa Musimin ingin di lokasi itu berdiri museum anggrek, museum hidup. Tak perlu ada bangunan, cukup pohon-pohon seperti apa adanya sehingga bisa menjadi habitat nyata bagi kehidupan anggrek.

Orang-orang yang ingin meneliti dan belajar anggrek bisa langsung melihat dan merasakan bagaiamana habitat anggrek sesungguhnya. Nantinya tidak hanya sebagai museum hidup bagi anggrek, tetapi juga untuk dunia pendidikan dan bisa menjadi tempat belajar siapa saja sehingga generasi yang akan datang, tidak hanya tahu cerita soal anggrek, tetapi juga bisa juga ikut merasakannya.

“Dengan adanya pelestarian, konservasi khusus anggrek, bisa mencakup secara luas dalam upaya konservasi flora dan faunanya, semua terjaga,” kata Musimin.

Ide itu sudah pernah dia lontarkan, tapi sayang belum banyak yang menanggapi sehingga mimpi Musimin sebagai penjaga mahkota hutan di lereng Gunung Merapi belum bisa terwujud. Namun, itu tak menjadi halangan bagi Musimin. Dia tetap semangat menjaga dan merawat anggrek-anggrek Merapi.

“Menjaga kelestarian alam memang tugas kita sebagai manusia di bumi, jadi tak boleh patah semangat dan harus terus menjaga kelestariannya untuk generasi penerus,” ujarnya.

Musimin yang hanya lulusan SD senang dan bahagia karena dia bisa tahu keanekaragaman anggrek dan habitat ekosistem dalam hutan. (FU/M-4)

BERITA TERKAIT