14 October 2020, 23:36 WIB

BPPT Dukung Penguatan Industri Jamu dan Obat Herbal


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

JAMU sebagai obat modern dikalangan masyarakat dipercaya dapat digunakan sebagai salah satu cara menjaga kesehatan serta menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk kini dipercaya menghalau virus covid-9.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan beberapa langkah untuk menghilirisasi sekaligus menghilangkan ketergantungan terhadap berbagai pasokan bahan baku impor dalam rangka menyediakan obat-obatan di Indonesia,

"Sebagai bagian dari sistem inovasi dan BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi, tentu ingin agar kemampuann dalam industri jamu dan obat fitofarmaka dapat menjadi penghela pertumbuhan ekonomi," kata Kepala BPPT Hammam Riza, Rabu (14/10).

Langkah BPPT dalam penguatan industri jamu dan obat herbal yakni pertama melakukan bioprospeksi tanaman obat. ioprospeksi adalah eksplorasi dari keanekaragaman hayati menjadi sumber daya genetik dan biokimia yang mempunyai nilai secara komersial.

Pada langkah ini dilakukan beberapa kegiatan seperti ekspedi untuk koleksi tanaman obat, identifikasi dan pembuatan herbarium, ekstraksi dan bioassay dan penyusunan data base.

"BPPT juga melakukan database tanaman obat. Setidaknya ada 2550 jenis tanaman berpotensi sebagai tanaman obat," lanjut Hamman.

Langkah kedua, melakukan domestikasi tanaman obat hutan yakni tahapan adaptasi dari tanaman liar menjadi tanaman yang bisa dibudidayakan.

Ketiga, perbanyakan benih tanaman obat, misalnya benih lada yng digunakan secara ex vitro. Menurut Hamman dalam hal ini telah melakukan kerja sama denngan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab Bangka. melakukan pula pelatihan, pembangunan sarana produksi benih yang kemudian berhasil memproduksi 200 ribu benih lada.

Baca juga : Tata Kelola Vaksinasi Covid-19 Harus Transparan

Keempat, melakukan budidaya tanaman obat seperti binahog, jahe merah, kumis kucing, sambiloto dan sebagainya. Kelima, pascapanen untuk produksi BBO Simplisia. Selanjutnya, pengembangan ekstrak terstandar formulasi nanoteknologi untuk sediahan herbal serta merancang bangun peralatan.

Semuanya itu menurut Hammam, merupakan bagian penting dalam upaya melaksanakan penguatan industri jamu dan obat herbal tentu saja dengan peralatan yang memiliki TKDN tinggi, karenanya harus bangga dengan buatan Indonesia. Selain itu, BPPT juga banyak berperan dalam membantu industri kecil menengah maupun industri strategis seperti di BUMN.

"Dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati, kita bisa meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dari obat-obatan. Khususnya fitofarmaka dalam program yang dibuat oleh Pemerintah, tentu ini akan membantu hilirisasi industri sehingga sumberdaya yang ada dapat dikelola secara mandiri,"kata Hamman.

BPPT juga mengembangkan fraksinasi untuk minyak nilam, karena sangat terkait dengan kekayaan Indonesia yang memang menjadi negara eksportir terbesar untuk kebutuhan minyak nilam dan ini menjadi sebuah pangsa pasar yang diminati oleh Singapura, Amerika dan Eropa. Karenanya BPPT telah melaksanakan scaling up bekerjasama dengan Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala dan telah menghasilkan beberpa produk turunan nilam. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT