14 October 2020, 19:31 WIB

November, Uji Vaksin Covid-19 Merah Putih ke Hewan


Putra Ananda | Humaniora

PROSES pengembangan vaksin Merah Putih untuk covid-19 saat ini mencapai 55%. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akan melakukan uji praklinik kandidat vaksin pada hewan pada November 2020.

“Saat ini sudah sekitar 55 persen dari skala laboratorium. Diharapkan akan segera melakukan uji praklinik atau uji pada hewan bulan depan (November 2020) kalau semuanya lancar sehingga nanti akhir tahun sudah selesai dan awal tahun bisa diserahkan ke Bio Farma,” ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio dalam Forum Diskusi Denpasar 12 yang mengangkat topik Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Harapan, yang ditayangkan secara virtual, Jakarta, Rabu (14/10).

Amin menuturkan, Eijkman fokus pada pengembangan vaksin dengan platform subunit protein rekombinan. Antibodi yang dihasilkan setelah vaksinasi akan bekerja untuk mencegah terjadinya penempelan virus pada sel manusia dan pelepasan materi genetik virus ke dalam sel manusia.

Sejauh ini, proses pengembangan vaksin covid-19 Merah Putih yang dikerjakan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman berjalan lancar. Diharapkan, pada awal 2020 Eijkman dapat menyerahkan bibit vaksin Merah Putih tersebut kepada PT Bio Farma.

Eijkman menggunakan virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 yang bersirkulasi di Indonesia sebagai dasar informasi genetik untuk pengembangan vaksin Merah Putih itu. Eijkman berhasil melakukan amplifikasi gen penyandi protein S dan N dari virus SARS-CoV-2 isolat Indonesia.

Eijkman telah melakukan transfer gen S dan N dari vektor pembawa ke vektor ekspresi galur sel mamalia. Saat ini, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menunggu sel-sel mamalia tersebut menghasilkan antigen berupa protein rekombinan yang diharapkan. Dalam hal ini, antigen adalah zat yang dapat merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi sebagai bentuk perlawanan terhadap virus SARS-CoV-2.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memilih pengembangan vaksin dengan platform subunit protein rekombinan karena relatif lebih aman yang mana tidak menggunakan virus hidup sebagai vektor. Biaya produksi dari pengembangan vaksin dengan platform subunit protein rekombinan juga relatif rendah dan teknologinya sudah dikuasai oleh banyak negara, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.

“Jadi walaupun teknologinya bukan teknologi kuno, teknologi yang agak lebih baru tetapi sudah dikuasai oleh banyak negara. Hasilnya juga relatif mudah dipanen dan lebih aman karena tidak menggunakan virus hidup sebagai vektor,” ujar Amin.

Amin menambahkan, vaksin berbasis protein rekombinan yang menyasar receptor-binding domain (RBD) dari virus SARS-CoV-2 itu dianggap lebih manjur karena bisa membangkitkan kekebalan. Tetapi di sisi lain juga reaksi yang dikhawatirkan yakni antibody enhancement bersifat minimal atau bahkan tidak ada sama sekali. (OL-14)

BERITA TERKAIT