14 October 2020, 19:20 WIB

BPH Migas Kaji Kelanjutan Proyek Gas Transmisi Cisem


Fetry Wuryasti | Ekonomi

KELANJUTAN proyek gas transmisi Cirebon-Semarang (Cisem) akan dikaji dalam waktu paling lama sebulan. Ini setelah PT Rekayasa Industri (Rekind) yang seharusnya menggarap proyek tersebut baru saja menyatakan mundur.

Komite BPH Migas sepakat menugaskan direktur gas bumi untuk melaksanakan kajian dalam waktu maksimal satu bulan sejak Senin (12/10) untuk dikoordinasikan dengan Kementerian ESDM. "Setelah satu bulan nanti kami ada keputusan bersama solusi terkait pipa Cisem ini," kata Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa dalam konferensi pers virtual, Rabu (14/10).

Pembangunan pipa transmisi dapat dilaksanakan melalui lelang oleh BPH Migas, penugasan oleh pemerintah (Kementerian ESDM), dan inisiatif badan usaha. Kalau mengacu kepada peraturan BPH Migas, kata dia, ini bisa ditawarkan kepada pemenang kedua dan ketiga pada 2006. Hanya, itu tidak mungkin bisa digarap dengan capex dan toll fee yang sama seperti pada saat itu.

Opsi kedua, BPH Migas akan melelang dengan batasan waktu tertentu dalam panitia gabungan BPH Migas dan pemerintah. "Panitia ini bisa membuat lelang terbuka kepada seluruh badan usaha yang punya izin pengangkutan," kata Fanshurullah.

Syarat melelang antara lain rencana induk jaringan transmisi dan distribusi harus memastikan asal pasokan gasnya. Kedua, harus dilakukan feasible study atau kajian seberapa besar permintaan yang akan membeli hasil gas.

"Jadi sebenarnya memang mesti dilelang. Tetapi ada ruang di peraturan menteri bahwa bisa menjadi penugasan," kata Fanshurullah.

Opsi ketiga, BPH Migas bisa menawarkan penugasan pemerintah kepada badan usaha tertentu untuk proyek strategis nasional. Tapi, BPH Migas selama ini tidak pernah dilibatkan dari awal untuk mengawasi penggunaan capex dan opex badan usaha yang mendapat mandat penugasan pemerintah serta realisasi volume gas sering kali tidak sesuai kesepakatan awal.

Akhirnya BPH Migas menetapkan hitungan akhir dengan toll fee (tarif angkut) yang tinggi. "Ketika capex tidak terkontrol dan volume tidak konsisten dengan kesepakatan, dampaknya toll fee bengkak. Harapan kami, dengan dilelang, toll fee akan diadu yang paling efisien," kata Fanshurullah. (OL-14)

BERITA TERKAIT