14 October 2020, 18:47 WIB

Dua Alasan Pemkot Yogyakarta Belum Buka Pembelajaran Tatap Muka


Ardi Teristi | Nusantara

KASUS Covid-19 di Kota Yogyakarta pada beberapa hari terakhir kembali landai. Namun, Pemkot Yogyakarta belum akan membuka pembelajaran tatap muka di kelas karena dua alasan.

"Pertama, di sekitar Kota Yogyakarta kan masih fluktuatif naik. Jadi, kondisi demikian harus menjadi pertimbangan untuk membuka kelas tatap muka. Sebab, siswa sekolah di Kota Yogyakarta banyak juga yang berasal dari daerah sekitar (dari luar Kota Yogyakarta)," jelas Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Rabu (14/10).

Alasan kedua kegiatan tatap muka di kelas belum digelar di Kota Yogyakarta karena pelaksanaan kegiatan tatap muka di kelas harus dengan persetujuan orang tua atau wali murid.

"Sekolah tatap muka untuk bisa dijalankan perlu ada persetujuan dari orang tua wali murid. Belum semua orang tua sepakat saat ini dilakukan sekolah tatap muka," kata dia.

Jumlah SD di Kota Yogyakarta berjumlah 175 sekolah dengan jumlah siswa 43.861 anak. Sementara itu, jumlah SMP di Kota Yogyakarta ada 65 sekolah dengan jumlah siswa 20.268 anak.

Saat ini, lanjut Heroe, ada beberapa sekolah sudah mulai melakukan tatap muka sangat terbatas. Pasalnya, meskipun siswa tidak ketemu di sekolah, selama ini mereka sudah bertemu di rumah atau tempat-tempat pertemuan bersama. "Jadi, sampai saat ini kita masih melakukan Pembelajaran dr rumah," jelas dia.

Heroe menanbahkan, saat ini kuota data bantuan pemerintah sudah dikirimkan kepada masing-masing siswa. Sebagian besar proses pembelajaran pun dilakukan secara daring. "Bantuan kuaota data sudah lebih dari 95% diterima siswa," jelas dia.

Jika dilihat dari provider yang digunakan, siswa SD di kota Yogyakarta 40.3% memakai Telkomsel, 16.5% XL, dan 15.4% Indosat, 15.4% Tri, 6.4% Smart Fren dan Axis. Sementara itu, siswa SMP di Kota Yogyakarta yang menggunakan Telkomsel 30.3%, Tri 21.6 %, Tndosat 15.6%, XL dan Smart Fren 14%, serta Axis 5%

Heroe menambahkan, untuk mata pelajaran tertentu, seperti baca, tulis, dan hitung, setiap sekolah membuka konsultasi bagi siswa yang kesulitan masalah perlatan daring atau kesulitan akses pembelajarannya. Konsultasi dibatasi maksimal 10 siswa setiap pertemuan dengan protokol kesehatan yang ketat. (R-1)

BERITA TERKAIT