14 October 2020, 10:51 WIB

Jabodetabek dan Bali Diminta Tingkatkan Testing dan Tracing Korona


Insi Nantika Jelita | Humaniora

WAKIL Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan meminta wilayah Jabodetabek dan Bali untuk meningkatkan testing dan tracing (pelacakan) covid-19.

Menurutnya, sembari menunggu datangnya vaksin, pemerintah daerah diminta untuk menekan laju penularan virus tersebut. Hal itu disampaikan dalam rapat kerja secara virtual bersama kepala daerah, Selasa (13/10)

"Saat ini, kita tengah menyiapkan vaksin covid-19, diharapkan November 2020 sudah dapat kita terima," ujar Luhut dalam keterangan resmi, Rabu (14/10).

Baca juga: Bio Farma Hadirkan Vaksin dengan Harga Terjangkau

Sementara itu, Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan, di Jakarta terjadi penurunan proporsi klaster perkantoran selama 14 hari terakhir setelah dilakukan testing dan tracing.

"Testing ini diterapkan secara gratis kepada 8.000 spesimen perharinya," ujarnya.

Lebih jauh, dia menyebutkan bahwa garda terdepan dari testing dan tracing ini adalah puskesmas kecamatan.

Di setiap puskesmas terdapat dua komponen. Pertama, digital tracer yakni, bertugas untuk melakukan investigasi kasus dan menindaklanjuti semua kontak eratnya.

Kedua, koordinator lapangan di setiap kecamatan yang melibatkan 1.500 ASN dan relawan.

Jika digital tracer hanya melakukan pelacakan kontak erat secara daring, koordinator lapangan terjun langsung ke lokasi untuk menemui dan mendampingi pasien serta melacak kontak eratnya.

Kemudian, di wilayah Bali, dikatakan pertumbuhan kasus baru covid-19 cenderung menurun.

"Yakni penambahan angka pasien Covid-19 di bawah 100 kasus per hari. Tingkat kesembuhan meningkat hingga 86,37%. Angka meninggal pun dapat dikendalikan menjadi di bawah 5%", papar Gubernur Bali I Wayan Koster dalam rakor tersebut.

Untuk mendukung kemajuan ini, Gubernur Koster menekankan pentingnya layanan di rumah sakit, baik dari segi tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan.

Selain itu, ia pun mengimbau pentingnya koordinasi dengan Komando Daerah Militer (Kodam) dan Kepolisian Daerah (Polda) untuk mengajak masyarakat mengikuti protokol kesehatan, seperti tertib menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.

Kemudian, di Jawa Barat, dari yang sebelumnya memiliki lima zona merah, sejak 6 Oktober hingga 11 Oktober 2020 tersisa tiga Kabupaten/Kota.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, untuk menekan penularan virus tersebut, pihaknya memanfaatkan QR Code Check-in bagi orang yang masuk ke gedung negara untuk mempermudah tracing.

"Misalnya di Gedung Sate ada satu orang yang positif Covid-19, kita jadi bisa tahu siapa saja orang-orang yang ada di sana di waktu tersebut," jelas Ridwan. (OL-1)

BERITA TERKAIT