14 October 2020, 10:34 WIB

Pengembangan Vaksin Dinilai tak Cukup akibat Sebaran Hoaks Korona


Faustinus Nua | Internasional

PARA peneliti di Inggris dan Belanda melakukan survei di beberapa negara mulai dari Inggris, Amerika Serikat (AS), Irlandia, Meksiko dan Spanyol terkait pengetahuan masyarakat atas covid-19. Mereka menemukan meskipun banyak orang menolak teori konspirasi covid-19, namun beberapa dari cerita palsu ini telah mengakar pada bagian penting dari populasi.

Karena itu, Ilmuwan mengingatkan bahwa pengembangan vaksin mungkin tidak cukup. Pasalnya, hampir sepertiga populasi di negara tertentu percaya pada informasi yang salah tentang covid-19 dan kurang terbuka untuk vaksinasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memperingatkan pandemi telah disertai dengan infodemik yang merusak dan menyulitkan orang untuk mengabaikan informasi yang salah.

Studi tersebut menemukan bahwa konspirasi yang paling dipercaya oleh para partisipan adalah klaim virus tersebut sengaja direkayasa di laboratorium di kota Wuhan Tiongkok, tempat epidemi pertama kali muncul. Sekitar 22-23% responden di Inggris dan AS menilai pernyataan ini sebagai "dapat diandalkan", kemudian meningkat menjadi 33% dan 37% di Meksiko dan Spanyol.

Baca juga: Peran Aktif Para Dokter Bantu Cegah Penyebaran Hoaks Covid-19

Hoaks gejala covid-19 diperburuk oleh jaringan telepon 5G pun diyakini oleh 16% responden di Meksiko dan Spanyol, 12% di Irlandia, dan 8% di Inggris dan AS.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science, menemukan hubungan yang jelas antara mempercayai konspirasi virus korona dan keraguan seputar vaksin masa depan.

"Selain menandai klaim palsu, pemerintah dan perusahaan teknologi harus mencari cara untuk meningkatkan literasi media digital di masyarakat," kata seorang rekan Direktur Lab Pengambilan Keputusan Sosial Universitas Cambridge Sander van der Linden.

"Kalau tidak, mengembangkan vaksin yang berfungsi mungkin tidak cukup".

Infodemik

PENELITI melakukan dua survei di Inggris pada bulan April dan Mei dengan masing-masing 1.050 dan 1.150 peserta. Sementara ada juga 700 peserta masing-masing di AS, Meksiko, Spanyol, dan Irlandia. Mereka juga diminta menilai keandalan klaim covid-19 dengan skala satu hingga tujuh.

Rata-rata, penelitian tersebut menemukan peningkatan persepsi seseorang bahwa kesalahan informasi dapat dikaitkan dengan penurunan 23% kemungkinan mereka setuju untuk divaksinasi. Sebaliknya, peningkatan kepercayaan sepertujuh pada ilmuwan dikaitkan dengan peningkatan 73% kemungkinan mendapatkan vaksinasi.

Jon Roozenbeek, penulis utama dan rekan pascadoktoral di Departemen Psikologi Cambridge, mengatakan orang-orang berurusan dengan banjir statistik dalam pandemi.

"Membina keterampilan numerik untuk memilah-milah informasi online bisa menjadi sangat penting untuk mengekang infodemik dan mempromosikan perilaku kesehatan masyarakat yang baik," katanya.

Para peneliti menemukan tingkat kepercayaan yang tinggi pada ilmuwan dan tingkat berhitung secara signifikan dan konsisten terkait dengan ketidakjelasan terhadap informasi yang salah di semua negara yang diteliti.

Sebuah studi dari Cornell University pada awal Oktober menemukan bahwa Presiden AS Donald Trump adalah pendorong kesalahan informasi covid-19 terbesar di dunia. Lantaran promosinya tentang apa yang oleh para peneliti disebut "obat ajaib".

Bulan ini, Facebook mengumumkan larangan akun yang terkait dengan QAnon, sebuah gerakan konspirasi yang berpusat pada keyakinan tidak berdasar bahwa dunia dijalankan oleh komplotan rahasia pemuja Setan. Para pengikutnya menuduh tanpa bukti bahwa covid-19 adalah konspirasi untuk mengendalikan orang yang menggunakan vaksin dan 5G.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT