14 October 2020, 08:32 WIB

Cerita Lukas Tanam Stroberi di Kaki Gunung Ebulobo


Ignas Kunda | Nusantara

LUKAS Ua, 37, dengan berkaus biru masih terus memetik buah stroberi yang merah ranum dari polybag-polybag di balkon rumahnya. Sesekali dia harus mecabut dan memangkas beberapa daun kering yang masih menempel.

Ada sekitar 100 buah polybag berisi tanaman stroberi dengan daun-daun yang hijau lebat. Sebagian polibag disusun pada rak-rak kayu yang dibuatnya agar dapat menghemat tempat.

“Pagi ini tidak siram karena air tidak keluar,” keluh Lukas dengan nada lemas dan kesal ketika ditemui, Rabu (14/10).

Baca juga: Dua Kementerian Kawal Desa Berinovasi

Pemuda Kampung Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sudah dua bulan terakhir memanen stroberi yang ditanam sejak awal tahun ini.

Ia telah mengalihkan perhatianhya pada pertanian sebagai sumber pendapatan setelah sebelumnya menjadi kontraktor pada proyek-proyek pemerintah dan desa.

Pria yang bisa disapa Luken itu, setiap hari, bersama istrinya bisa memanen stroberi hingga 4 kotak mika dan semuanya langsung habis terjual atau diambil pembeli yang datang ke rumahnya. Ia menjual satu kotak mika dengan harga Rp20 ribu.

Lukas menuturkan permintaan akan stroberri sangat tinggi karena orang terpikat akan rasanya.

Baginya, menanam stroberi sangat mudah. Yang penting butuh ketekunan dan perawatan maksimal terutama air yang selalu menjadi prioritas utama.  Semua tanaman stroberi yang ia tanam dirawat secara organik sehingga sehat dan berkualitas.

“Saya di sini kesulitan air, sumber mata airnya ada tetapi distribusi airnya yang sulit apalagi butuh biaya besar untuk air ini. Padahal permintaan tinggi, denga rasa yang unik menurut pembeli yang bisa beli, ” ungkapnya.

Selain menanam stroberi, ia juga menanam vanili serta cengkeh dan pala yang telah menjadi warisan dalam keluarganya. Ia harus memaksimalkan potensi yang ada di kampungnya yang selama ini tidak digarap dengan baik demi ekonomi rumah tangga.

Bagi Lukas, ini juga dilakukannya sebagai upaya mendukung pariwisata di kampunng halamannya yang berada di bawah kaki gunung Ebulobo.

Ia bertekad beralih perhatian ke dunia pariwisata setelah menyadari potensi wisata di kampungnya yang juga unik dan belum tentu dipunyai oleh daerah lain.

Lukas menyadari pariwisata bukan hanya soal bentang alam yang indah namun segala seuatu yang terhubung di dalamnya, seperti aktivitas warga, segala aneka tumbuhan yang melekat dan dekat dengan manusia sekitarnya.

“Sebelumnya, kami kira wisata itu seperti harus ada pantai yang bagus. Namun, sebenarnya di kampung ada keunikan sendiri seperti aktivitas memetik cengkeh, minum kopi di bawah pohon cengkeh dengan wangi aroma cengkeh, barisan tanaman vanili dan stoberri ini adalah juga wisata bagi sebagian orang di kota besar,” katanya.

Lukas membeberkan bahwa selain sebagai penggerak pariwisata, menanam stroberi di kampung Pajoreja atau pada umumnya daerah di bawah kaki Gunung Ebulobo sangat berpotensi sebagai pendapatan  ekonomi rumah tangga yang rutin kalau tekun dalam perawatannya.

Selain itu, ini sebagai pemicu  dan menjadi penggerak semua anak muda di kampungnya untuk memaksimalkan potensi di sekitarnya agar tidak selalu keluar merantau mencari pekerjaan lain.

“Sayang kalau kita harus merantau ke Kalimantan atau Malaysia hanya untuk cari pekerjaan lain padahal kita bisa jadi petani sukses di kampung sendiri. Stroberi ini bisa kita panen setiap hari kalau suda berbuah hanya dengan duduk dan tinggal di rumah uang datang,” pungkas penyayang burung ini. (OL-1)

BERITA TERKAIT