14 October 2020, 03:10 WIB

Utamakan Kualitas Vaksin


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

SECARA teori upaya pengendalian covid-19 di Indonesia baru bisa dilakukan dengan memaksimalkan vaksinasi terhadap 70% penduduk. Namun, jumlah tersebut diproyeksi baru tercapai pada akhir 2021.

"Jenis vaksin yang dipastikan akan digunakan di Indonesia ialah Sinovac-Bio Farma dan Sinopharm. Kedua vaksin itu harus disuntikkan dua kali. Dengan demikian, butuh sekitar 320 juta vaksin," kata Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif saat dihubungi, belum lama ini.

Kalau sudah 70% penduduk divaksinasi, lanjutnya, dengan sendirinya kasus covid-19 akan turun dan terkendali. Untuk itu, pemerintah melakukan berbagai upaya pemesanan vaksin pada empat perusahaan, yakni Cansino, Sinovac, Sinopharm, dan Aztra Zeneca. Dalam sisa tahun ini, kata Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto, dari keempat perusahaan tersebut akan tersedia vaksin sebanyak 30 juta.

"Pemerintah juga akan memesan 50 juta vaksin covid-19 tahap pertama dari 100 juta komitmen yang diproduksi Aztra Zeneca dari Inggris. Sedang berangkat Menkes, Menlu, dan Menteri BUMN untuk mempersiapkan 50 juta yang dipesan dan dibayar," jelasnya, Senin (12/10).

Menurut peta jalan (road map) yang ditetapkan pemerintah, pelaksanaan pemberian vaksin di Indonesia akan melalui beberapa tahap.

Namun, Syarif mengingatkan, rencana pemerintah yang telah terstruktur itu hingga kini sejumlah vaksin covid-19 masih dalam tahap uji klinis fase III. Artinya, belum ada bukti vaksin yang diuji coba memberikan proteksi dari virus korona.

"Saya sepakat dengan prioritas pemberian vaksin di tahap awal kepada orang-orang yang berisiko terpapar virus covid-19, seperti petugas medis. Diikuti TNI, Polri, dan aparat hukum lainnya, serta kelompok masyarakat dengan kategori lanjut usia (lansia)," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Uji Klinis Vaksin Covid 19 Sinovac-Bio Farma Prof Kusnandi Rusmil mengatakan uji klinis tahap III berjalan sesuai yang diharapkan.

"Sampai saat ini kami sudah melakukan pemeriksaan kepada 1.700 orang. Minggu depan akan selesai prosesnya, tinggal kita mengikuti selama 6 bulan kemudian. Jadi, untuk rekrutmennya sudah selesai minggu," ujar guru besar di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran Bandung itu. Lebih lanjut, ia menjelaskan, vaksin yang tidak melalui uji klinis di Indonesia bisa dipergunakan. "Yang penting sudah diuji klinis di mana pun dan sudah disetujui WHO," ujarnya.

Berkualitas dan halal

Pemberian vaksin tak terlepas dari isu kehalalan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) harus memastikan kehalalan vaksin yang akan digunakan di Indonesia.

Kepala Badan POM Penny K Lukito dalam siaran persnya baru-baru ini mengatakan penggunaan vaksin dan obat covid-19 tetap diawasi ketat, mulai produksi di industri farmasi hingga distribusinya. "Badan POM juga mengawasi proses pengembangan Sinophram di Uni Emirat Arab," ujarnya.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan untuk menjaga dan menjamin kualitas vaksin covid-19 dari bahan baku dan lainnya, BPOM akan terbang ke Sinovac, Tiongkok.

"Untuk visit audit proses pengembangan dan produksi vaksin korona di fasilitas Sinovac di Beijing, termasuk LPPOM MUI untuk melaksanakan audit halal," ujarnya.

Badan POM, lanjut Honesti, juga akan memastikan fasilitas dan proses produksi vaksin covid-19 di Bio Farma memenuhi standar cara pembuatan obat yang baik (CPOB)/good manufacturing practice (GMP). (Ata/Medcom.id/Metro TV/X-7)

BERITA TERKAIT