14 October 2020, 04:13 WIB

Waspadai Potensi Multibencana


Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum

PEMERINTAH memperingatkan potensi terjadinya multibencana pada akhir tahun ini. Penyebabnya ialah fenomena La Nina yang memicu curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Mulai Oktober ini diramalkan akan banyak hujan deras. Itu bisa menyebabkan longsor. Mungkin bisa juga ada gempa dan tsunami,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai mengikuti rapat terbatas, kemarin.

Luhut meminta masyarakat untuk mengindahkan setiap peringatan yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) demi menghindari jatuhnya korban jiwa.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memaparkan, dalam tiga bulan ke depan, seluruh daerah di Tanah Air, kecuali Sumatra, akan mendapat curah hujan tinggi. “Curah hujan ini sangat dinamis. Oktober dan November, La Nina akan menyerang Jawa, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, hingga Papua Barat. Pada Desember, La Nina akan bergerak ke arah Indonesia bagian tengah dan utara,” terang Dwikorita.

Tanpa ada La Nina sekalipun, Indonesia akan memperoleh curah hujan di atas normal. “Jadi, ini dobel. Karena selain La Nina, curah hujan memang sudah meningkat,” tuturnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menginstruksikan Kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan seluruh pihak terkait untuk melakukan antisipasi secara maksimal. “Saya ingin kita semua menyiapkan diri mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi,” ujar Jokowi saat memimpin rapat terbatas, kemarin.

Tidak hanya dari sisi kesiapan penanganan bencana, antisipasi juga harus dilakukan pada sektor-sektor strategis seperti pertanian dan perhubungan. “Produksi pertanian harus benar-benar dihitung. Begitu juga perhubungan karena 20%-40% itu bukan kenaikan yang kecil,” tutur Jokowi.

Ia pun meminta jajarannya untuk menyampaikan informasi terkait perkembangan cuaca dan potensi bencana tersebut secara jelas kepada masyarakat.

Skema pengungsian

Kementerian Sosial akan menyiapkan skema pengungsian khusus jika terjadi bencana alam di masa pandemi. Upaya itu harus dilakukan demi menghindari terjadinya klaster penularan covid-19 pada masa darurat bencana.

“Lokasi pengungsian saat pandemi tentu akan berbeda dengan saat normal. Kalau saat normal, mungkin satu tenda bisa diisi puluhan bahkan kadang ratusan orang. Di saat pandemi, jumlah pengungsi di setiap tenda pasti akan dikurangi, tetapi teknis pelaksanaan nanti akan tergantung juga pada lokasi,” ujar Menteri Sosial Juliari Batubara.

Selain membatasi jumlah pengungsi, pemerintah juga akan memberikan alat proteksi seperti masker dan handsanitizer di lokasi pengungsian. “Kami juga akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan terkait kemungkinan dilakukannya rapid test di lokasi pengungsian,” ucap Juliari.

Selain itu, sebagaimana antisipasi bencana dalam kondisi normal, Kemensos akan mulai menyiapkan stok penyangga seperti

makanan dan minuman serta
kebutuhan mendasar lain untuk
masa darurat bencana. (X-11)

BERITA TERKAIT