14 October 2020, 01:30 WIB

Sinergi Kesiapsiagaan Atasi Bencana


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengajak segenap komponen pentahelix untuk melakukan upaya kesiapsiagaan dengan peningkatan kapasitas masyarakat karena penanggulangan bencana harus dilakukan secara bersama dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Pentahelix terdiri atas pemerintah, komunitas, akademisi, masyarakat, dan media massa.

"Untuk mengantisipasi, perlu ada upaya nyata dalam rangka mengurangi dampak dari potensi ancaman bencana tersebut. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, perlu ada sinergi dan kerja sama dengan pendekatan kolaborasi pentahelix," tegas Doni dalam pelaksanaan Peringatan Bulan PRB 2020 yang mengusung tema Daerah punya aksi pengurangan risiko bencana, di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Adapun menurut Doni, upaya dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi dampak bencana, termasuk La Nina, ialah melalui identifikasi, koordinasi, rencana kontijensi, simulasi, dan sosialisasi.

"Pertama, identifikasi potensi ancaman bahaya hidrometeorologi yang ada. Kedua, koordinasi kesiapsiagaan, dalam rangka berbagi peran dan menyiapkan sumber daya. Ketiga, menyiapkan rencana kontinjensi dan laksanakan geladi dan simulasi dengan melibatkan seluruh stakeholder. Keempat, sosialisasikan kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan dan apa yang harus dilakukan sehingga dapat selamat bila bencana terjadi," kata Doni.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan untuk mewaspadai terjadinya bencana alam hidrometeorologi karena sebanyak 27,5% wilayah Indonesia akan mengalami keadaan curah hujan di atas normal pada akhir 2020. Selain itu, curah hujan tinggi juga akan berbarengan dengan puncak fenomena La Nina yang akan terjadi pada Desember 2020-Januari 2021.

"Meskipun puncaknya baru terjadi pada Desember 2020, tapi La Nina yang mengakibatkan curah hujan tinggi sudah terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia pada Oktober 2020 ini," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seusai rapat terbatas virtual yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

 

Modifikasi

Terpisah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mencegah terjadinya hujan dengan intensitas besar yang dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor. Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Jon Arifian menjelaskan, modifikasi cuaca yang dilakukan BPPT selama ini ialah dengan menurunkan hujan lebih awal dengan menggunakan bahan semai.

"Setelah dilakukan intervensi pada pertumbuhan awan, hujan akan turun lebih awal dan dengan intensitas yang lebih rendah sehingga meminimalisasi potensi banjir di wilayah rentan," jelasnya.

Jon menambahkan, selain dengan teknik modifikasi cuaca, bencana banjir dan tanah longsor juga dapat dicegah dengan mengelola wilayah sungai dan penataan daerah hulu.

"Misalnya, di Kementerian PU-Pera, mereka ada tugas terkait dengan pengelolaan wilayah sungai serta stakeholder yang mengelola penataan di daerah hulu. Keberhasilan pengelolaan sedikit-banyak akan berkontribusi pada ancaman-ancaman yang bisa mengakibatkan peristiwa bencana hidrometeorologi tadi," tuturnya. (Ant/Aiw/H-3)

BERITA TERKAIT