13 October 2020, 21:56 WIB

Suku Bunga Acuan Dipertahankan untuk Menahan Keluarnya Dana Asing


Fetry Wuryasti | Ekonomi

BANK Indonesia kembali mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Hal ini mempertimbangkan tingginya ketidakpastian eksternal yang masih mendorong keluarnya dana asing di pasar keuangan negara berkembang terkait tambahan stimulus fiskal AS, pemilihan presiden AS, pemulihan ekonomi domestik, serta penanganan Covid-19 di dalam negeri.

"Volatilitas nilai tukar rupiah cenderung meningkat khususnya pada akhir September hingga awal Oktober. Sementara itu, investor asing masih membukukan net sell di pasar saham meskipun kepemilikan investor asing pada SBN cenderung meningkat dalam sebulan terakhir ini," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, dihubungi, Selasa (13/10).

Di samping itu, mempertimbangkan aktivitas ekonomi, khususnya sisi permintaan yang masih lemah terindikasi dari rendahnya inflasi tahunan yang dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat yang terbatas apalagi setelah pemda DKI memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pertengahan September hingga awal Oktober.

Baca juga : Gubernur BI: Transaksi Pembayaran Tunai dan Nontunai Meningkat

Penurunan suku bunga kebijaan BI saat ini belum akan terlalu mendorong peningkatan aktivitas ekonomi yang lebih signifikan mengingat perilaku konsumsi masyarakat yang masih dipengaruhi oleh perkembangan kasus Covid-19 di dalam negeri,

Penurunan suku bunga acuan BI sebesar 100bps sejak awal tahun ini belum berimplikasi pada peningkatan permintaan kredit perbankan. Oleh sebab itu, BI masih akan mempertahankan suku bunga kebijakannya dan mengoptimalkan kebijakan quantitative easing serta bauran kebijakan lainnya untuk mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.

"Dengan kebijakan quantitative easing tersebut diharapkan ketersediaan likuiditas perbankan tetap terjaga sedemikian sehingga mendukung penurunan suku bunga perbankan kedepannya. Selain itu kondisi likuiditas perbankan yang ample akan mendukung optimalisasi fungsi intermediasi perbankan kedepannya setelah aktivitas ekonomi kembali pulih setelah melewati masa pandemi Covid-19," tukas Josua. (OL-7)

BERITA TERKAIT