13 October 2020, 16:15 WIB

Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Masa dan pasca-Pandemi


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PANDEMI covid-19 berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri asuransi, sehingga imbasnya diprediksikan dapat melewati semester II 2020. Hal itu berdasarkan data Global Makro Outlook dari Insurance Information Institute. Untuk itu diperlukan penyesuaian strategi bisnis dari para pelaku usaha untuk tetap dapat bertahan di tengah kondisi saat ini.

Peluang dan tantangan yang dihadapi oleh para pelaku industri asuransi tersebut, dikupas dalam webinar yang diadakan oleh Gerakan Pakai Masker (GPM) yang berkolaborasi dengan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertajuk 'Adaptasi Industri Perasuransian Dalam Penyelamatan Ekonomi di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19'.

Baca juga: Wimboh: Tren Pertumbuhan Premi Asuransi Kuartal II-2020 Melambat

“Dengan pemanfaatan TI secara optimal, pelaku usaha dapat menjalankan operasi bisnisnya secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, penggunaan TI juga memungkinkan pelaku usaha untuk tetap dapat berinteraksi secara langsung dengan konsumen, di tengah pembatasan interaksi sosial antar individu,” ungkap Riswinandi, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Merangkap Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adaptasi TI, lanjut dia merupakan faktor penting untuk dapat bertahan dalam kondisi pandemi serta mengatisipasi trend perilaku konsumen yang berubah di masa yang akan datang. Mendukung kegiatan berbasis teknologi informasi, saat ini OJK tengah mempersiapkan dan merampungkan RP OJK terkait manajemen risiko teknologi informasi tersebut.

Sebagai regulator, OJK senantiasa mendorong industri asuransi untuk terus  beradaptasi dengan perubahan ekosistem jasa keuangan, termasuk juga dengan inovasi pemasaran jasa keuangan. Namun, inovasi yang dilakukan harus tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian.

Senada, Pakar Pemasaran Yuswohady mengatakan bahwa perubahan perilaku konsumen dalam masa dan pasca pandemi dapat memberikan dampak serta peluang untuk industri asuransi. Kecenderungan konsumen saat ini adalah kembali ke dasar, yakni lebih memprioritaskan kebutuhan, sandang, pangan, dan papan.

Hal itu terjadi karena adanya ketakutan orang karena ketidakpastian ekonomi. Akibatnya orang lebih memilih menyimpan uangnya di bank dan mengurangi pembelian. Tetapi, ketika risiko kematian makin tinggi, mereka akan cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan pokok pada saat pascaapandemi.

Optimisme tersebut dapat terlihat dari meningkatnya pemilik polis asuransi di Tiongkok, sebagai negara yang telah berhasil mengatasi pandemi covid-19.  Data Mc Kinsey menyebutkan, pemilik polis asuransi di negara tersebut meningkat sebesar 47% dibanding tahun sebelumnya.

Optimisme juga disampaikan Ekonom Senior Aviliani  yang menyatakan  bahwa terdapat potensi yang masih bisa digarap oleh industri asuransi jika jeli melihat peluang dengan memanfaatkan sektor informal. Pengembangan produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor infomal  menjadi penting mengingat, tidak pastinya pendapatan pelaku sektor informal.

“Ke depan, orang-orang akan lebih memilih bekerja pada sektor informal dan tidak lagi menjadi karyawan tetap pada sebuah perusahaan. Orang-orang ini bisa memiliki pendapatan lebih dari Rp7,5 juta perbulan dan layak dilirik oleh industri asuransi,” lanjutnya.

Pandemi covid-19 yang melanda 240 negara dan tidak kunjung usai, tentunya juga berdampak pada kondisi ekonomi yang tidak bisa diprediksi ke depannya. Penyelenggaraan kegiatan ekonomi tidak dapat dilakukan secara full capacity. Kegiatan perkantoran harus memperhatikan protokol kesehatan untuk menjaga jarak aman yang ideal antar karyawan untuk mengurangi risiko penyebaran yang terbilang tinggi di ruang tertutup, serta adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ketua GPM Sigit Pramono mengatakan kondisi ini memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II menjadi -5,3%. Jika pada triwulan III pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap minus, maka akan terjadi resesi.

Krisis yang terjadi karena pandemi ini awalnya merupakan krisis kesehatan. Kemudian, direspon dengan PSBB, sehingga menimbulkan ekonomi yang setengah berhenti dan diikuti oleh resesi. Jika PSBB yang dilakukan semakin panjang, akan menimbulkan resesi yang semakin dalam, dan bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi depresi, yang paling dikhawatirkan adalah kerusuhan.

Semua proses tersebut disebut spiral maut. “Peran dari kita semua adalah bagaimana kita dapat menyelamatkan ekonomi agar terhidar dari spiral maut tersebut,” ungkap Sigit.

Untuk menghidari hal tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu cara paling ampuh dan mudah yang dapat dilakukan saat ini. Berdasarkan studi yang dikeluarkan oleh Travel Medicine and Infectious Disease Volume 36, pada Juli-Agustus 2020, penggunaan masker dapat menurunkan risiko penyebaran covid-19 sebesar 96%. (RO/A-1)

 

 

BERITA TERKAIT