13 October 2020, 20:06 WIB

Irigasi Kering Tiga Tahun, Petani Andalkan Sumur Dangkal


Gabriel Langga | Nusantara

AKIBAT musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, jaringan irigasi air di sekitar lahan petani menjadi kering. Untuk itu, sejumlah petani di Nangarasong, Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, memanfaatkan sumur dangkal untuk pengairan di sawah.

Salah satu petani, Wati, mengatakan seluruh irigasi yang mengalirkan air ke persawahan tidak berfungsi lagi. "Awalnya kita di sini mengandalkan air dari saluran irigasi yang dibangun pemerintah. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Sudah lama irigasi air tidak berfungsi. Air sudah tidak ada lagi di irigasi itu. Ini diakibatkan kemarau panjang sehingga tidak ada air," papar Wati saat ditemui Media Indonesia, Selasa (13/10).

Selama ini para petani itu hanya mengandalkan sumur dangkal. Mereka harus menyediakan pompa agar airnya bisa dialirkan ke persawahan.

"Hampir semua petani di sini menggunakan sumur dangkal. Biaya operasional pompa cukup besar agar air dapat dialirkan ke lahan-lahan kami. Apalagi kalau pompa rusak, mau tidak mau, kami mengeluarkan biaya untuk memperbaikinya," ucap Wati. Saat ini hampir seluruh petani menanam sayur.

Hal yang sama juga disampaikan Hartono. Sudah tiga tahun terakhir ini mereka mengalami kekeringan sehingga banyak tanaman, seperti padi dan jagung, mengalami gagal panen.

Dia menyampaikan sumur dangkal hanya bisa digunakan untuk beberapa petak sawah. Bila semua petak ditanam sayur, kebutuhan air menjadi besar sehingga berimbas pada biaya operasional.

Ia mengaku sumur dangkal itu merupakan bantuan dari pemerintah kepada kelompok petani. Selain itu, ada sumur dangkal yang dikerjakan secara pribadi oleh petani. (OL-14)

BERITA TERKAIT