13 October 2020, 14:05 WIB

Bantu Bangkitkan UMKM, Perluas Akses hingga ke Pelosok


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PANDEMI covid-19 yang berkepanjangan memang mambuat lumpuh berbagai sektor kehidupan, terutama ekonomi. Banyak pelaku usaha yang terpaksa menutup usaha mereka wabah tersebut dan tidak sedikit karyawan yang di-PHK akibat perusahaan mereka gulung tikar.

Situasi itu bukan tidak disadari pemerintah. Itu sebabnya pemerintah terus memberi bantuan kepada pelaku usaha, terutama UMKM untuk bisa bangkit lagi. Sebab bagaimana pun UMKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional.

Baca juga: Kolaborasi Perbankan-Fintech Lending, Akselerasi Gerak Industri

Namun tentu saja, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Butuh dukungan swasta untuk membantu dan menggerakan kembali sektor perekomian. Dari situlah PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) berperan aktif dalam meningkatkan inklusi keuangan masyarakat dengan menyediakan layanan keuangan berbasis teknologi yang menghubungan pendana dengan perempuan pengusaha mikro di desa. Alhasil hingga September 2020, mereka mencatat pertumbuhan angka pendana atau lender sebesar 34% dan angka peminjam atau borrowers sebesar 101% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kami mencoba menjembatani mereka yang berada di piramida terbawah untuk bisa sejahtera dengan akses permodalan. Melalui produk keuangan kami dan 3,000 tim yang berdedikasi di lapangan, Amartha dapat menyalurkan pendanaan modal usaha dari ratusan ribu pendana kepada 542,350 Mitra Amartha, pengusaha mikro desa yang dimana 100% adalah perempuan,” cetus Andi Taufan Garuda Putra, Pendiri dan CEO Amartha.

Bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan 2020 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Amartha pun merilis Laporan Akuntabilitas Sosial (Social Accountability Report) Amartha 2019, dengan temuan bahwa tingkat literasi keuangan mitra Amartha Meningkat hingga 23,15%. Selain itu, data menunjukan bahwa hampir 70% pendana Amartha adalah milenial dari seluruh provinsi di Indonesia. Pendana milenial biasanya tertarik pada pendanaan berdampak sosial, yang menghasilkan keuntungan serta memberikan nilai dampak nyata kepada masyarakat.

“Ke depan, kami ingin mendorong terwujudnya ekosistem ekonomi pedesaan terintegrasi sehingga membuka kesempatan lebih baik bagi warga prasejahtera agar dapat lebih sejahtera. Dengan misi ini, kami berkomitmen untuk mengembangkan produk layanan keuangan masa depan yang memungkinkan masyarakat pedesaan untuk melakukan transaksi dengan biaya lebih rendah selagi meningkatkan pendapatan melalui usaha mikro mereka," ujarnya.

Menurut Andy, model bisnis mereka dirancang untuk menjadi pendorong utama peningkatan inklusi keuangan di Indonesia melalui tiga pilar pemberdayaan, yang terdiri dari penyediaan produk keuangan, peningkatan akses dan pengurangan biaya untuk memperoleh akses layanan keuangan. Seiring dengan pertumbuhan bisnis dan perluasan geografis Amartha, mereka membantu Indonesia mencapai visinya sebagai bangsa yang inklusif secara finansial. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT